Konsekuensi.

Sudah lebih dari dua bulan saya tidak menulis, menceritakan apa-apa yang sebenarnya amat berkumpul-menumpuk bagai gunung yang tak jelas berapa ketinggiannya. Lebay! 

Apa yang ingin saya tuliskan nanti mungkin bukanlah sebuah hal yang menarik, tapi cukup penting seperti sebuah catatan hasil penelitian untuk mahasiswa tingkat akhir yang tengah berjuang dalam menyelesaikan studinya. Agar datanya tidak ia lupakan atau hilang tentu ia menuliskannya bukan? Begitu pula saya, agar saya ingat bahwa hal uang tengah menyita pikiran saya ini jangan sampai lagi saya ulangi. Berkali-kali hal yang menyita pikiran saya itu tidak jauh-jauh tentang kehidupan yang saya jalani ini, entah itu tentang mimpi, pencapaian saya dalam hidup atau bahkan tentang gejolak kisah kasih roman picisan saja. Namun kali ini yang tengah saya pikirkan begitu menohok sekali buat saya. Ya, karna keduanya itu amat penting di hidup saya; teman baik dan perasaan-cinta yang saya harapkan. 

Saya melakukan kesalahan, saya salah, dan saya yang malah menyalahkan bisikan setan sebagai penyebab saya melakukan kesalahan, juga saya yang pada akhirnya malah menyembunyikan keinginan saya sendiri dan berusaha menyenangkan orang terdekat yang amat penting bagi saya karna telah menemani perjalanan hidup saya yang turun naiknya saya tak pernah mengira. Semoga yang ini pun segera lewat aja. Saya capek mikirnya. Tipikal introvert banget kan ya? Mikir mendem sendirian terus lah. Hmm.

Berhenti dan tidak ingin lagi mengulang menjadi perantara membantu perjuangan​ cinta teman alias mak comblang itu adalah salah satu pelajaran yang sungguh benar-benar saat ini terpatri kuat di memori saya. Serius lah saya ngga mau lagi mengurusi hal seperti itu lagi. Bukan, bukan karena saya ngga mau bantu. Saya ngga mau hal-hal di luar kendali saya bikin rumit kacau kehidupan saya, termasuk pula hubungan pertemanan saya. Saya sadar sekali bahwa saya ini introvert yang punya teman baik itu bisa dihitung pakai satu tangan aja. Jika dengan saya ngebantuin urusan cinta teman saya itu tapi konsekuensi akhirnya malah bikin hubungan saya sama teman saya jadi runyam karena timbul kecemburuan pun ditambah amarah yang sungguh saya takut buat ngadepinnya ya mending ngga usah aja. Iya, saya lagi ngalamain beginian. Harusnya ini cerita roman picisan anak SMA, tapi kenapa saya malah baru ngalaminnya pas usia saya baru saja 25 tahun lewat 1 hari? Sungguh telat sekali. 

Saya sadar – mengerti – paham kenapa teman saya marah dengan caranya yg amat saya takuti, sungguh nyelekit rasanya di hati. Saya tau, wajar bila teman baik saya bersikap seperti itu. Saya yang salah kan? Saya yang jadi mak comblang malah dekat intens membicarakan banyak hal yang berfaedah ataupun tidak dengan si lelaki yang diincar oleh teman saya sendiri. Wajar, wajar banget kalo saya dicemburui-dimarahi karena saya pasti sudah mengecewakan teman saya sendiri. Saya jahat banget, iya. Saya yang dari tiga/empat tahun yg lalu awalnya menjadi mak comblang itu ngga pernah ada kepikiran satu hal pun soal si lelaki incaran malah pada akhir-akhir ini menyadari menaruh kekaguman sendiri terhadapnya setelah berbincang tentang topik pemahaman agama yang sungguh tengah saya minati. Pemahaman agama si lelaki incaran ini sungguh mumpuni, dan saya kagum memiliki perasaan tersendiri bahkan sempat terbersit rasa geer yang sungguh tidak patut saya rasakan. Ah, payah! Sungguh saya bukanlah teman yang bisa diandalkan rasanya. 

Komunikasi adalah kunci yang paling utama dalam sebuah hubungan, karena dengan komunikasi itu kita bisa mendekatkan yang jauh, pun juga bisa menjauhkan yang dekat tentunya. Saya yang sebagai mak comblang sejak dulu itu sudah pasti banyak komunikasi dengan lelaki incaran ini, saya ngga masalah toh teman saya yang minta tolong tanya ini itu atau kepo ini itu lewat saya. Saya kan mak comblang, saya wajib bantu yang mau saya bantu kan. Namun yang menjadikannya sebagai suatu masalah adalah ketika akhir-akhir ini saya berkomunikasi dengan lelaki tersebut untuk tujuan saya sendiri. Bukan, bukan untuk merebut si lelaki incaran, tapi untuk memperdalam pemahaman agama yang bisa saya peroleh darinya dengan penjelasan dan cara sharing yang cukup membuat jelas pemahaman agama saya pada akhirnya. Ini bukan modus, buat apa? Saya jelas sekali tengah ingin menseriusi sosok yang diinginkan ibu saya dan tentu akan lebih pas kalo saya tanya ke dia walaupun sayangnya saya tak pernah berhasil mendapatkan responnya ketika saya pernah mencoba bertanya. Pertanyaan saya tidak ditanggapi, alias diabaikan!. Haha, miris. Ya, di situlah awal kesalahan yang saya buat. Awal penyimpangan yang saya lakukan hingga berujung pada cerita kejujuran yang saya lakukan sehari setelah saya berusia seperempat abad. Saya menyampaikan semuanya, rasa bersalah saya yang sungguh benar-benar saya rasakan setiap kali saya bertext ria dengan si lelaki incaran itu, ketakutan saya akan kehilangan teman saya dan bagaimana saya meyakinkan diri untuk jujur bercerita pada teman saya itu, kelemahan hati saya yang pada akhirnya membuat saya memiliki perasaan -entah kagum entah apa terhadap si lelaki incaran itu, dan tentu pula pernyataan-pernyataan yang harus saya tanggapi yang berkaitan dengan si lelaki incaran dan termasuk pula ucapan do’a untuk kehidupan baru saya dari si lelaki yang saya post secara sengaja dengan rencana untuk mengawali cerita kejujuran saya pada teman saya tersebut. Ya, saya introvert yang pasti melakukan suatu hal itu tentu sudah dipikiran dulu sebelumnya. Lalu, ini lah konsekuensi yang harus saya tanggung walaupun saya nggak menyangka bahwa akan sebesar ini akhirnya. Saya kira akan menghadapi marah-kesel-ndumel yang kecil-kecil saja, tapi saya salah. Dan salah mungkin kata yang saat ini cocok bersanding dengan saya(?).

Walaupun pada akhirnya teman baik saya mengerti, dan saya yakin dia berusaha untuk mencoba memaklumi-memaafkan saya-memahami-menyadari bahwa setiap orang memiliki hak nya masing-masing tapi saya tau/ngerasa bahwa di dalam hatinya pasti masih ada rasa kekecewaan, kesedihan, kemarahan terhadap saya yang jahat sekali ya(?). Kini saya tengah dalam pergolakan batin, apakah saya harus menghilangkan rasa kagum -atau apalah itu namanya- terhadap lelaki incaran teman saya itu dan berhenti tak meneruskan hubungan komunikasi (entah itu obrolan tak berfaedah pun juga tentang bimbingan pemahaman agama yang beberapa bulan ini saya selalu tanyakan padanya) yang sudah saya jalin ini atau saya ikuti saja sisi egois saya sendiri?. Saya bingung, karena dibalik pilihan yang akan saya pilih itu tentu ada konsekuensi yang besar yang menanti untuk dijalani. 

*ps: pada akhirnya​ ‘pretending to be ok’ selalu menjuarai pilihan. Bukankah saya terbiasa memendam-merahasiakan-mengesampingkan perasaan/kepentingan saya sendiri selama ini?. Dan, apabila berpura-pura dalam bertindak terhadap hal yang belum bisa kita lakukan adalah suatu ketidakbaikan, apakah berpura-pura agar bisa membiasakan pun berarti demikian? Sesungguhnya hanya Allah SWT yang mengetahui segalanya, pun tentang isi hati saya dan/atau si lelaki incaran itu sendiri. 

Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu, sesungguhnya Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.  (QS. Al-Baqarah: 216)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s