Menemukan YB Mangunwijaya di Buku Kumpulan Puisinya Joko Pinurbo

Membaca puisi adalah belajar untuk mengasah perasaan, melatih kelembutan hati dan keselarasannya dengan pikiran dalam mencerna kata demi kata yang terangkai dengan atau tanpa pola. Dan menurut saya, puisi menyimpan keindahan dalam balutan ketersiratan makna, kelugasan nada, pun hingga kesederhanaan yang disuguhkannya. Dalam membaca sebuah karya sastra, khususnya puisi, saya mungkin tergolong sebagai seorang yang sentimentil; amat mudah larut dan menangis walau itu hanya karena satu kalimat saja yang mungkin menurut orang lain tidak ada artinya. Dan hal itu sama terjadi seperti malam ini pula, saya terenyuh hanya karena rangkaian kata yang amat sederhana dan mudah sekali dicerna tentang kisah hidup penulis yang saya sukai karya dan tentu perjuangan hidupnya, YB Mangunwijaya. Ya, saya menemukan YB Mangunwijaya dalam puisi yang dibuat 17 tahun yang lalu oleh seorang sastrawan yang sebulanan ini tengah saya kuliti karya-karyanya; Joko Pinurbo. 

Perahu

             : YB Mangunwijaya

Air danau makin meninggi.

Entah sudah berapa desa tenggelam di sini.
Setelah sembahyang dan menghitung cahaya lampu di kejauhan, pada tengah malam ia memutuskan pergi ke seberang. Di sana anak-anak sudah tak sabar menunggu dan ingin segera mendapat oleh-olehnya: buku tulis, pinsil dan kisah-kisah petualangan yang biasa ia dongengkan dengan jenaka di gedung sekolah darurat yang tentu tidak tertib kurikulumnya.

“Hati-hati, Pak Guru, hujan tampaknya segera turun”, kata orang-orang kampung yang membantu mendorong perahunya.

“Tenanglah,” timpalnya tersenyum, “saya sudah terlatih untuk kalah.”

Meskipun agak gentar sebenarnya, ia meluncur juga bersama sarung dan capingnya.
Air danau makin meninggi.

Entah sudah berapa rumah tenggelam di sini.
Sebelum sampai di seberang, ia memutuskan mundur ke tengah. Seluruh kawasan telah dijaga aparat dan cukup sulit mendapatkan tempat mendarat. Sambil menunggu situasi, ia tiduran saja di atas perahu dan, kalau bisa, bermimpi. Menjelang subuh, perahu mendarat di tujuan. Mereka menyambut girang: “Pak Guru sudah datang?!”
Pak Guru memang sudah datang. Sayang ia tak juga bangun dan takan bangun lagi. Tapi anak-anak, yang inhin segera mendapat oleh-olehnya, tak akan mengerti batas antara tidur dan mati.
Beberapa aparat meneriksa tubuhnya yang masih hangat dan menemukan sesobek surat: 

“Pak Petugas, tolong sampaikan pinsil dan buku tulis ini kepada anak-anakku yang pintar dan lucu. Saya mungkin tak sempat lagi bertemu.”

Ada di antara mereka yang berkata, “Kandas juga ia akhirnya.”
Memang ia kandas, dan tenggelam, ke lembah Maria, seperti hidup yang karam dalam doa.

Barangkali ia sendiri sebuah perahu yang dimainkan anak-anak piatu.

Yang berani mengarungi mimpi dan menyusup ke belantara waktu.
(1999)

*dikutip dari Malam Ini Aku Akan Tidur di Matamu

ps: buku kumpulan puisi Joko Pinurbo yang terbaru ini berisikan karya puisi beliau yg ditulis sejak tahun 1989 hingga tahun 2012. Dari total halaman yang berjumah 125 halaman, jumlah puisi yang terdapat di buku itu ada banyak (*saya gak sempat hitung jumlahnya berapa, males), yang jelas sejak pertama kali buku ini saya baca sejak bulan Desember lalu, saya baru sampai di halaman 49 aja. Bukan karena ngejlimet, tapi karena saya gak meluangkan waktu buat baca buku ini. Sejauh yang saya baca, pusinya Joko Pinurbo ini memiliki ketersiratan makna yang cukup membuat saya bertanya-tanya dan mikir pastinya, kiasan serta sindiran adalah kata yang pas dan mewakili bahasa yang digunakan nya dalam penulisan puisinya. Ah, pokoknya ya gitu lah ya, saya mau lanjut baca setelah pikiran saya gak fokus karena ingin mencet-mencet keyboard handphone buat nulis postingan ini setelah baca puisi Pak Jokpin yang ditujukan buat Rama Mangunwijaya.

Anw, terima kasih ya Pak Jokpin yang sudah mengabadikan kisah tentang Rama Mangun di perjalanan puisi-puisi mu. Semoga esok lusa atau besok hingga besoknya lagi saya bisa segera menuntaskan dalam pencarian satu karya beliau yang belum dan sungguh ingin saya baca sekali, Burung-Burung Rantau. Saya rindu membaca cerita yang sederhana karya Rama, pun sama juga seperti pada karya Pak Kyai Ahmad Tohari yang selalu khas dengan kesederhanaan desasentrisnya. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s