Instagram.

Beberapa waktu yang lalu saya menghapus sekian puluh postingan foto yang pernah saya abadikan di lapak pencitraan saya, Instagram. Sebenarnya saya sudah malas untuk mengisi lapak tersebut dengan koleksi dokumentasi milik saya pribadi, namun teman dekat saya Mbak-Kakaks seringkali ‘ngomel’ pas tahu bahwa saya menghapus foto-foto yang ada di sana. Mereka berdua sangat menyayangkan tindakan saya tersebut.

Saya sudah memikirkan baik-baik akan jadi seperti apa lapak pencitraan saya itu ketika saya menghapus foto-foto yang ada di sana. Saya pikir, saya hanya akan mengisi lapak tersebut dengan potret-potret dari sosok yang setidaknya bermakna-berkesan di hidup saya. Ya, saya hanya memikirkan tentang itu saja. Namun, lagi-lagi postingan mas Aan Mansyur mulai menggelitik dan membangunkan keinginan saya untuk mengabadikan tempat-tempat yang pernah saya kunjungi. Saya kembali ingin menyimpan kenangan tempat yang saya kunjungi tersebut dalam bentuk ‘Postcard to My Mom & Brothers’. Ya, kali ini saya punya tema-konsep atas apa yang akan saya posting di sana, tidak akan lagi menyematkan caption-caption alay super galau atau sok-sok bijak yang sebelum-sebelumnya sering saya lakukan. Ini adalah metamorphoses dari lapak pencitraan saya yang esok lusa mungkin akan menjadi lapak dokumentasi saya. 

Saya akui dulu saya memang sering berharap orang akan memperhatikan postingan lapak pencitraan saya itu dengan banyaknya ‘like’ yang saya dapatkan. Tapi sekarang saya tidak lagi ingin hidup seprimitif itu. Tidak lagi ingin mengharap orang akan menyukai apa yang saya post. Seperti halnya lapak curhat saya ini (re: blog WordPress), saya berharap malah tidak ada orang yang terlalu memperdulikan isi lapak saya itu. Biarlah Instagram ini akan menjadi lapak dokumentasi yang sebenarnya-benarnya saya gunakan untuk menyimpan kenangan tentang seseorang, tempat atau bahkan mungkin hingga buku mana yang amat menyentuh hati dan pikiran saya. Kali ini saya akan menggunakan konsep yang sebaik-baiknya untuk menjadikan ‘media sosial’ yang saya gunakan itu bisa bermanfaat setidaknya untuk diri saya sendiri. 

Expect nothing and you will never be disappointed. -an

ps: di tampilan lapak dokumentasi penuh kenangan itu (kemungkinan) Juli hanya akan menggunakan tiga jenis caption; FRIEND OF MINE yang menampilkan sosok yang berkesan di kehidupan Juli dan Postcard to My Mom & Brothers yang menyuguhkan pemandangan dari tempat yang pernah Juli kunjungi.

Juli hanya menggunakan empat media sosial. Facebook (yang akan segera Juli akhiri masa hidupnya) digunakan untuk menuntut ilmu dan infomasi terbaru, Twitter sebagai pos untuk mengicaukan berbagai macam hal hingga yang kadang remeh temeh adanya, WordPress untuk tampungan semua cerita kehidupan dan apa yang Juli pikirkan, serta Instagram yang menyimpan banyak kenangan. 

Marilah kita bijak dalam menggunakan dan memanfaatkan media sosial.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s