Cerita Dari Seorang Penyusup (4)

Selamat berakhir pekan, Mas. Sepertinya hubungan komunikasi kita akhir-akhir ini mulai membaik ya(?). Beberapa waktu yang lalu kamu tampak begitu ekspresif dan memulai lagi hal yang dulu pernah kamu lakukan, membercandai aku. Sayangnya, pada waktu itu aku sudah tidak lagi antusias untuk meladeni apa yang kamu sampaikan. Aku sudah ingin lepas dari segala hal yang berkaitan tentang dirimu. Serius, Mas, aku ingin segera hidupku diwarnai oleh cerita yang baru, tidak melulu tentang aku dan kamu di masa lalu, tidak lagi merasakan kemasygulan saat menyebut namamu, dan tidak lagi terbawa perasaan saat kita memiliki kesempatan untuk bernostalgia atau mungkin nanti bertemu. Aku merasa bahwa aku lebih baik tidak lagi menceritakan kisah penyusupanku atau hingga mungkin hal lainnya itu kepadamu. Aku tidak ingin lagi seolah-olah tengah bercerita kepadamu. Aku akan bercerita pada diriku sendiri saja, karena aku merasa aku akan lebih baik menjadi seperti itu. Ya, aku yakin bahwa ini adalah kali terakhir aku akan bercerita kepada mu. 

Baiklah Mas, seperti yang sudah kamu ketahui mengenai perjalanan penyusupanku yang aku mulai sejak bulan Agustus lalu itu, aku mulai menemukan satu kenyamanan tersendiri dengan mereka (re: orang-orang yang sebwlum sempat aku ceritakan kepadamu). Aku nyaman dengan apa yang selama ini aku lalui dengan mereka. Dan termasuk pula bahwa aku pun semakin nyaman dengan sosok rekan kerjaku yang membersamai aku selama perjalanan pengembaraan pekerjaanku ini. Kamu sudah tahu banyak tentang dia, Mas, karena cerita tentangnya sudah aku sampaikan kepadamu beberapa hari yang lalu. 

Aku yakin kalau dirimu sudah tahu bahwa akhir pekan lalu rekan kerja sekaligus tempat mengadu-tukang bukain tutup botol minum-penerjemah kode itu mengadakan acara farewell. Menurutku itu adalah acara yang sedikit berlebihan. Aku sedang tidak ingin menampakan sisi kelemahanku. Aku tidak ingin menampakan bagaimana raut wajahku ketika menangis dihadapan orang lain. Aku tidak ingin orang lain tahu tentang kesedihanku saat berpisah dengan seseorang yang sudah memberi makna di kehidupanku. Aku tidak ingin orang lain yang asing bagiku itu mengetahui tentang bagaimana perasaanku. Ah, pada intinya aku sedang tidak ingin membuat satu ingatan tentang cerita bagaimana merayakan suatu perpisahan itu. Selama ini, perpisahan adalah sebuah kedukaan, bukan perayaan.

Akhir pekan yang lalu, tepatnya saat sabtu malam alias malam minggu, aku bersama rekan kerjaku itu dan sosok A-C-E serta sosok baru (yang akan aku ceritakan nanti) berkumpul di kedai langganan tempat kami nongkrong yang dimiliki oleh sosok A. Kami duduk bercerita panjang lebar, membicarakan banyak hal, menghabiskan waktu dengan icip-icip racikan menu baru karya sosok A yang amat menawan itu, membunuh kesedihan dengan canda tawa serta keseriusan kami dalam bermain uno blok bersama untuk pertama kalinya. Namun sayangnya, aku melakukan satu kebohongan selama pertemuan kali itu. Aku lupa mencopot topeng yang ku gunakan ketika bersama dengan rekan kerjaku itu. Aku tidak ingin menampakan rasa kesedihan dan kehilanganku terhadapnya. Namun sayangnya aku pun menggunakan topeng itu pula pada saat berkumpul dengan mereka. Aku melakukan satu kesalahan besar. Aku membohongi mereka yang ada di sana dengan sikapku yang ku tunjukan saat itu. Aku seolah tampak senang dan baik-baik saja. Jika ada yang bisa membaca isi hati dan pikiran ku mungkin dia akan tahu bagaimana aku harus berjuang membangun pegangan dan kepercayaan diri agar aku mampu menjalani sisa jatah waktu hingga aku menyelesaikan pekerjaan yang tidak pernah aku cintai sejak awal aku memulainya. Aku harus terbiasa untuk tidak lagi bersama dia. 

Selama malam perpisahan itu aku memang menggunakan dan menikmati waktu yang terasa begitu singkat sekali. Aku menikmati perpisahan itu. Aku sadar dengan aku tak lagi bersama dengan rekan kerjaku, maka kesempatanku menjadi semakin sedikit untuk mengunjungi Garut beserta dengan hal dan sosok yang kurindukan dan selalu ingin aku temui di tiap kunjungan yang ku lakukan. Namun, sekarang aku tidak tahu apakah kedepannya nanti aku masih sesering dulu untuk mengunjungi Garut saat rekan-kawan-temanku itu sudah tak lagi di sana. Berpisah dengan dia sama saja seper berpisah dengan Garut dan beserta isinya. Dan karena hal itu pula lah kesedihan dalam perpisahan itu semakin besar adanya. Ah, ternyata Garut memang memiliki kenangan amat sentimentil dan tempat tersendiri dalam hidupku. 

Garut terbuat dari kerja, teman dan wisata.

Malam perpisahan yang menurutku terasa ‘mengambang’ itu ada hal lain pula yang harus aku syukuri. Aku bertemu dengan sosok baru, sosok yang aku singgung di awal cerita ini. Sosok ini adalah sosok yang beberapa waktu yang lalu sungguh ingin aku temui. Bukan karena aku menyukainya, Mas, tapi karena dia memiliki nama yang sama dengan dirimu. Karena itu aku penasaran ingin tahu bagaimana dirinya. Sekarang marilah kita sebut saja ia sebagai Sosok F. Sebenarnya aku sudah pernah bertemu dengannya, namun aku tidak sadar bahwa dia adalah orang yang tengah aku cari. Dia amat sangat lucu sekali Mas. Sungguh 180° berkebalikan dengan dirimu. Sosoknya yang periang, selalu bercanda dengan gaya khasnya dan mudah bergaul sehingga menjadikannya lebih cepat berbaur dengan siapapun. Pemikirannya yang dewasa dalam menyikapi kehidupan menjadikan dia terlihat lebih tua dari usianya. Sepertinya dia menjalani hidup yang sulit sejak kecil hingga membentuk karakternya yang mandiri dan dewasa seperti itu. Dia memiliki pengetahui yang mumpuni di bidang pariwisata, kebudayaan, konservasi serta hal lainnya. Wajar saja sih Mas, dia lulusan Pariwisata UI, walaupun memang dia pernah bercerita pada kawanku bahwa dulu tahun 2008 dia diterima di jurusan yang sama denganmu di kampus kita yang rimbun dengan pepohonan itu. Sayangnya dia memang lebih memilih UI ketimbang kampus kita yang ada di pelosok Dramaga itu. Ah sungguhlah Mas,aku akan amat betah bila mengobrol atau bercanda untuk berlama-lama dengannya. Dia dapat dengan mudah membuat aku ingin terus tertawa karena kekonyolannya. Aku tidak pernah bosan jika sedang bersama dengannya. Menurutku, dia adalah sosok yang sungguh menyenangkan.
Rasa penasaran serta sikap yang kutunjukan terhadap sosok F menjadikan teman-teman komunitas (mungkin) memiliki penilaian bahwa aku tengah menyukai-ngefans terhapnya. Aku pernah bercerita kepada sosok B dan D tentang dirimu, Mas, sebagai alasan mengapa aku sering dan ingin tahu banyak tenyang sosok F. Kamu dan sosok F memiliki kesamaan nama panggilan. Dulu itu yang membuatku tertarik untuk tahu lebih jauh tentang sosok F. Sekarang, di saat aku sudah ingin lepas dari masa lalu, aku pun tidak ingin pula mengaitkan berbagai hal dengan dirimu pada apa aku jalani sekarang ini. Aku yakin atas apa yang aku jalani sekarang ini adalah yang memang seharusnya aku jalani tanpa terikat dan menengok ke belakang lagi. 

Seperti halnya dengan perpisahan yang pernah aku alami dulu denganmu, saat ini yang aku jalani sekarang dengan temanku itu pasti akan memberikan satu hikmah yang akan aku syukuri ke depannya. Sekarang hanyalah tinggal bagaimana aku beradaptasi dalam menjalani hidup dengan tanpa ada kawan yang membersamaiku untuk setengah perjalanan dalam mengabdi di perusahaan yang telah menggajiku selama ini.

ps: Juli bingung mau menulis apa. Intinya ya seperti itu saja lah. Ikhlas dan tidak usah khawatir atas apa yang akan terjadi di masa depan. Allah SWT pasti punya alasan dan rencana kenapa hal ini terjadi dan harus dilalui pleh Juli. Yang penting sekarang juli semangat saja dan kurangi melow galau nya. 

Untuk Mas Kecil, doakan Juli sukses untuk konsisten dan segera menjalani hidup barunya tanpa bayang-bayang dirimu yang mempesona. Ea.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s