Kakaks.

Beberapa hari ke depan saya akan menjalani hubungan gampang-gampang-susah, yaitu LDR (re: long distance relationship). Namun LDR yang akan saya jalani itu bukan dengan sosok yang disebut sebagai pacar atau bahkan mungkin suami, melainkan dengan sosok yang selama tiga tahun ini telah membersamai perjalanan saya di kehidupan yang gampang-gampang-sulit ini. Sosok itu yang sudah saya anggap sebagai rekan kerja / teman main / bahkan seorang kakaks. Jika kalian pernah sekali atau berulang kali membaca postingan saya sebelumnya tentang kegiatan penyusupan saya beberapa bulan lalu, maka kalian mungkin tidak akan asing dengan sosok yang saya sebutkan tadi. Dia yang sama-sama berjuang beradaptasi membiasakan diri ketika kami mengumpulkan pundi-pundi untuk bekal di dunia ini.

Fascah Aprialty Situmorang, dia seorang batak sejati, tulen, dan sudah lulus uji sertifikasi sejak masih bayi. Walaupun suaranya tidak enak untuk menyanyi, tapi ya gitu-gitu dia sudah terbukti jago sekali dalam hal kalkulasi-estimasi-ngejar-mimpi, eaaa. Saya memanggil dia dengan sebutan ‘Kakaks’. Bukan, bukan karena dia usianya lebih tua sekali dari saya, tapi ya karena dia ini sosok kakak buat saya. Dia berusia seumuran dengan saya. Ya, kami sama-sama lahir di tahun yang sama, 1992. Tanggal 20 April lalu dia berusia genap 24 tahun. Jadi ya wajar saja jika saya lebih banyak sekali bergelayut manja atau merengek-rengek hingga bahkan puas ngambek dan ngasih kode untuk diterjemakan olehnya, kan saya ini dedek gemez nya hehe.

Sehubungan kakaks saya yang satu ini memang seorang batak yang special, batak rasa sunda. Jadi ya sejauh ini dia yang mmenempati tempat ketiga yang membersamai saya di saat jungkir baliknya kehidupan saya yang penuh drama (*lihat post saya di lapak Instagram dengan tema ‘Friends of Mine’), ya, setelah drama perjuangan trainee 2014 terlewati – setelah moment perjalanan Jogja yang lebih banyak dipenuhi sunyi diam membisu – setelah curhatan galau melow hingga kenakalan kami dalam menjalani kehidupan asmara yang penuh luka liku yang membekaskan rasa terdalam – setelah moment lain yang saya tidak ingat itu apa saja yang sudah kami lewati jalani bersama. Namun, ya begitu, dia lah yang pada saat itu membantu untuk saling menguatkan walau dengan cara kita masing-masing. Dia yang mengajarkan saya untuk selalu terbuka dalam menyampaikan ‘kalo iya ya iya kalo enggak ya enggak, jangan bilang terserah’. Ya, dia itu sungguhlah batak rasa sunda. Lugas tapi juga perasa. Ekspresif tapi juga pemerhati. Mudah kesal sama pengendara yang ugal-ugalan tapi juga luluh lantak kalo melihat kakek ngayuh sepeda di jalanan. Makan banyak dengan rencana olahraga sebagai wacana tapi ingin badan gak makin melar. Ya, dia sosok perempuan tapi juga bisa menjadi sosok lelaki yang amat senang menggombali adek gemaz nya ini juga orang lain yang tidak pintar menghadapi gombalan-kode-kodean dari orang lain yang kadang terasa menjijikan. Ah, sungguhlah banyak sekali perihal yang sudah saya jalani dengannya selama hampir tiga tahun ini.

Saya bersyukur bisa bertemu dan membangun hubungan keluarga dalam tim kerja dengan orang-orang yang saling membangun seperti kakaks dan mbak-mbak serta akang rekan satu tim pekerjaan saya. Mungkin mbak-mas HRD di perusahaan tempat saya bernaung ini tahu bahwa dibalik sikap yang penuh keceriaan dan cukup ekspresif ini, saya adalah seorang anak yang lemah-rapuh-mudah-patah. Saya beruntung berada dan dikelilingi dengan orang-orang yang kuat, menguatkan dan menjadikan saya kuat pula di pekerjaan ini. Dan saya beruntung bisa lebih dari sekedar rekan kerja pula dengan sosok kakaks saya itu. Menjalani hidup selama tiga tahun dengan jungkir balik dan harus penuh ikhlas merelakan impian fast-track master dan mengajar di kampus hingga tawaran menjadi pekerja Kementrian Kehutanan di salah satu Balai Konservasi Sumber Daya Alam di pulau dewata sana dengan menggantikannya dengan bekerja dalam bidang yang bukan passion saya namun dipenuhi harapan dan do’a restu serta yang membuat ibu dan kelima kakak saya bahagia itu memang terasa gampang-gampang-susah adanya. Ya, akan terasa gampang-mudah bagi sebagian besar orang yang mengejar karier atau bahkan salary yang besar dari perusahaan tempat mereka bernaung, tapi terasa susah bagi saya yang passion dan mimpinya harus tertahan sementara atau mungkin harus direlakan selamanya (?). Impian saya memang hanya sesederhana menimba ilmu – mengajar – membangun keluarga kecil  yang sederhana dan tinggal dengan suami saya kelak di tempat yang jauh dari keramaian pun tak apa. Maka dari itu, bertemu kakaks dan mereka rekan kerja di tim saya itu adalah suatu pembeda dan mungkin sedikit obat dalam merelakan mengikhlaskan mimpi saya dan juga dari rutinitas yang membuat saya terasa seperti robot selama ini. Kerja membabi buta selama tiga puluh hari dengan mengharapkan gaji yang kadang apabila saya sedang lemah itu tak pernah mengobati.  Mungkin dua puluh lima persen dari bertahannya saya hingga saat ini itu karena saya bisa bertemu dan membangun keluarga bersama rekan kerja di tim saya, kakaks salah satu nya.

Saya amat sadar betul bahwa saya ini belum terlalu dewasa dalam bekerja. Saya amatlah egois. Saya seorang pegawai yang terkadang jika sedang melow seperti saat ini akan lebih banyak mengkhayal ‘andai dulu saya tidak apply pekerjaan ini atau andai saya dulu bisa egois dan memilih menjalani hidup sesuai keinginan saya bukan untuk keluarga saya’. Ya, saya seorang pekerja yang entah belum atau mungkin tidak bisa lepas dari masa tiga tahun lalu. Seharusnya sekarang saya ini harus belajar menjadi lebih dewasa, terlebih lagi karena beberapa hari ke depan saya tidak lagi bisa bergantung pada sosok kakaks saya itu. Saya tidak bisa dengan mudah dan sesuka hati untuk mengunjungi dan menghubungi, bercerita banyak hal dari pekerjaan hingga harapan agar sama-sama bisa menikah tahun depan, hingga mungkin beradu argumen tentang mantan hingga gebetan atau bahkan hal-hal sepele dalam hidup. Ya, mungkin inilah saatnya agar saya tidak bersandar pada orang lain lagi atau apakah ini adalah pertanda bahwa sebentar lagi saya akan dipertemukan dengan sosok yang akan membersamai agar sisa hidup yang saya jalani ini tidak sendiri lagi (?). Ah, apapun itu semoga setelah perpisahan ini hal-hal baik lah yang akan terus terjadi dan saya jalani.

Sebenarnya jarak LDR saya dengan kakaks ini tidak jauh-jauh amat, hanya sekitar 206 km dari tempat saya ini. Ya, itu tidak jauh-jauh amat. Tidak sejauh hubungan saya dengan dua teman dekat saya yang beda pulau dan beda negara. Saya dengan kakaks hanya sebatas bus AKAP, antar kota antar provinsi. Saya di Sumedang, dia di Jakarta – saya di desa, dia di kota – saya di Jawa Barat, dia di DKI Jakarta. Ya, jarak LDR kami mungkin hanya sesederhana itu, namun tidak pada kenyataannya kalau menurut saya sih. Mungkin hal ini pula lah yang ke depannya akan menambah alasan kuat kenapa saya harus lebih sering-sering mengunjungi Jakarta. Ah, jika dipikir-pikir sepertinya saya punya sebait sajak tentang Jakarta seperti bait sajak Malang untuk saya di waktu yang lalu dan Yogyakarta menurut Joko Pinurbo dalam kenangannya.

Jakarta terbuat dari Mbak Dep, Kak Fascah dan Bang Sulis yang harus aku temui. 

Menurut sebagian besar orang tentang berpisah dengan seorang teman mungkin tampaklah sebagai hal yang amat biasa, karena toh pada akhirnya mungkin akan digantikan oleh sosok-sosok teman baru yang bisa saja lebih asik menyenangkan dibandingkan dengan yang sebelumnya. Tapi buat saya tidak seperti itu. Amatlah sulit berpisah dengan sosok seorang teman yang sudah dekat-kenal-tahu-betul saya ini seperti apa. Saya memang seorang ekstrovet yang juga memiliki sisi keintrovertan sejak kecil. Saya tahu betul rasanya kehilangan seorang teman dekat yang jumlahnya hanya satu atau dua orang saja dalam perjalanan hidup saya itu. Dan kali ini pun saya harus menjalaninya lagi. LDR lagi, usaha untuk terus stabil komunikasi dan mempertahankan pertemanan lagi. Dan semua itu bukanlah suatu hal yang mudah dan semoga saya tidak anget-anget tahi ayam alias bisa konsisten dalam menjalaninya. Semoga Tuhan semesta alam mendukung saya.

Saya sadar bahwa menulis sekelumit hal yang amat sentimentil seperti ini akan menyebabkan saya melemah-merapuh pada akhirnya. Tapi tak apalah, saya sudah pandai bermain dengan wajah saya dan topeng-topeng beranekaragam ekspresi yang menjadi andalan saya dalam menyembunyikan apa yang saya rasa. Apakah kali ini pun saya tengah bermain topeng? Ya, saya tengah bermain dengan topeng yang mengekspresikan sok-sok tampak tegar tak terjadi apa-apa. Sungguh hebat sekali saya ini. Haha.

 

 
ps: Terima kasih sudah menjadi bagian dalam perjalanan drama kehidupanku selama tiga tahun ini, semoga Tuhan kita masing-masing selalu mendukung agar kehidupan kita yang singkat ini akan selalu baik-baik saja. Tenang aja, aku gak nangis koq ðŸ˜Š

Anyway, jangan lupa ke gereja tiap minggu nya yes~ 😝

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s