SA.YA (2) #masalalu

Masa kecil saya tidak terlalu menyenangkan. Banyak hal yang teramat sulit yang sudah saya lewati sejak kecil. Saya beruntung saya masih menjadi saya bahkan hingga kehidupan sekarang yang juga sulit untuk saya jalani walau dalam artian lainnya. Masa kecil saya tidak akan sama seperti anak-anak kecil lain pada umumnya. Masa kecil saya dipenuhi dengan perjuangan, pemikiran yang harus lebih dewasa dari usianya dan tentu saja tidak leluasanya untuk bermanja ria.

Saya, Yuli Hasmaliah binti Sahiri, lahir dari seorang ibu bernama Entin Hasanah dan dari bapak Sahiri. Ibu dan bapak saya bercerai, talak tiga, sejak saya berusia lima tahun. Saat itu tahun 1998, usia lima tahun adalah usia saya ketika saya masuk sekolah dasar di kampung saya. Saya tinggal dan besar di sebuah kampung di kecamatan Pamanukan, Subang. Rumah saya masuk gang, tepatnya gang Bakso Rudal di Jalan Ion Martasamita Kampung Kertajaya Desa Mulyasari. Saya akan menceritakan kepada kamu tentang kehidupan masa kecil saya, masa dimana saya sebelum masuk sekolah dasar hingga saya lulus sekolah menengah pertama, yaitu disaat saya berusia 1 hingga 12 tahun. Ini adalah cerita yang sudah lampau, sudah saya lalui, dan semoga saya masih bisa mengingat jelas apa saja yang sudah terjadi dan saya hadapi hingga sedikit banyak mempengaruhi membentuk karakter saya saat ini.

Dulu, semasa sebelum saya sekolah, yang saya ingat jelas hanyalah kegiatan saya bermain di pekarangan rumah. Rumah saya waktu itu tergolong rumah sederhana dengan pekarangan luas yang ditanami beberapa pohon nangka, kelewih, pepaya dan jambu air yang berbuah sesuai musimnya. Saya anak perempuan satu-satunya di keluarga saya. Kakak saya laki-laki semua, dan saya sedari kecil pun sudah sadar bahwa mereka amat sangat menyayangi saya. Saya memiliki seorang ibu yang amatlah posesif, dan beliau bersikap seperti itu memang karena rasa cintanya yang beaar untuk saya. Katanya, saya ini anak yang susah didapat. Tadinya setelah ibu saya memiliki lima pandawa (re: sebutan untuk lima orang anak laki-lakinya) maka ibu saya sudah menyerah berusaha untuk memiliki seorang anak perempuan, namun bapak saya yang keras kepala-pencemburu itu tetap dengan pendiriannya. Waktu itu saya lahir sebagai anak yang amat diinginkan oleh bapak saya, namun juga yang lima tahu kemudian pada akhirnya ditinggalkannya pula. Saya tahu alasan kenapa ibu bapak saya itu bercerai hingga talak tiga. Walaupun saya lupa saat itu saya usia berapa, saya ingat dengan jelas bagaimana bapak saya berlaku kasar terhadap ibu saya, saya ingat bagaimana bapak saya kemudian bisa berlaku manis terhadap ibu saya, saya ingat bagaimana emosionalnya bapak saya, saya ingat bagaimana ekspresifnya bapak saya, dan tentu dapat dengan mudahnya juga saya ingat bagaimana bapak saya pergi dari rumah serta bagaimana dengan mudahnya bapak saya kembali pulang ke rumah. Saya ingat jelas semuanya, jelas, jelas sekali. Bagi mereka, anak-anak yang pernah sedari kecil mengalami kisah pilu drama perceraian orang tuanya mungkin akan mengerti bagaimana rasanya menjadi seorang saya. Saya bersyukur ibu dan bapak saya bercerai. Saya yakin memang itulah yang terbaik untuk kelangsungan hidup keluarga saya, walaupun pada akhirnya ibu harus berjuang sekuat tenaganya untuk membesarkan saya dan lima orang kakak saya itu. Ibu saya seorang single parent, lebih tepatnya mungkin single fighter untuk keenam anaknya.

Ibu saya bukanlah sosok perempuan yang mengenyam tingginya bangku pendidikan. Ibu saya hanya lulusan sekolah dasar. Itu saja adalah hal yang patut ibu syukuri karena sudah bisa bersekolah walaupun pada akhirnya kakek nenek saya malah segera menjodoh-jodohkannya untuk dinikahkan dibandingkan memberikan keleluasaan-kebebasan untuk melanjutkan ke sekolah perguruan yang dicita-citakan ibu saya. Ya, itulah mengapa diusia 12 tahun setelah lulus sekolah dasar ibu saya malah menikahi bapak saya dengan cara perjodohan bak cerita Siti Nurbaya. Saya menyadari mungkin cerita masa lalu perjodohan hingha perceraian ibu dengan bapak saya itu adalah salah satu trauma pernikahan yang ada pada diri saya hingga sekarang. Saya takut pada mereka sosok yang mudah ringan tangan pada perempuannya, saya takut saya akan mengulang kisah pilu penuh drama yang pernah dijalani oleh ibu saya, dan saya takut saya akan bersuamikan sosok seperti ayah saya. Saya sadar saya berusia 12 tahun lebih tua dan belum menikah dari usia dimana saat ibu saya dijodohkan-dinikahkan, tapi itulah salah satu alasan kenapa hingga sekarang saya tidak mau dijodohkan-dinikahkan dengan sosok pilihan dari ibu saya. Saya ingin menikah dengan sosok yang saya percayai sendiri, dengan sosok yang saya pilih sendiri, dengan sosok yang akan saya temukan dengan cara saya sendiri, dan jikalau pun dengan cara perjodohan mungkin akan saya ikuti jika itu secara islami tentu dengan bantuan pembimbing saya terlebih dahulu. Ah, intinya saya tidak mau mengulang apa yang sudah ibu saya jalani.

Seperti yang sudah saya sampaikan, saya mulai bersekolah dasar saat usia lima tahun. Ini bukan karena saya mengikuti kelas akselerasi, tapi karena saya yang terlalu rajin mengikuti kakak terakhir saya saat dia pergi ke sekolah. Ibu saya lelah harus memisahkan-mencegah saya yang senang mengikuti saat kakak saya pergi sekolah. Karena sudah lelah bosan tersebut, maka pada saat tahun ajaran baru yakni di Caturwulan I bulan Juli 1998, ibu saya pun mengirimkan saya ke sekolah yang berbeda namun bertetangga dengan kakak saya. Tujuannya amat jelas, agar saya terpisah dengan kakak terakhir yang sering saya ikuti itu. Saat itu, kakak terakhir saya sudah menginjak bangku kelas empat sekolah dasar, dan saya mulai di bangku kelas satu. Saya manja sekali, sungguh kurang kemandirian saya saat itu. Untuk bersekolah, saya harus ditemani oleh ibu dari kelas satu hingga kelas dua. Hal itu dikarenakan teman-teman di lingkungan sekolah saya yang sering membully saya saat itu, sehingga menurunkan tingkat kepercayaan diri saya dan pada akhirnya semakin berkembanglah karakter introvert dalam diri saya. Namun mulai saat itu saya mulai memperoleh nilai yang bagus di setiap mata pelajaran, sehingga sejak kelas tiga hingga kelulusan sekolah dasar saya bisa mendapatkan nilai yang bagus pula. Walaupun beberapa dari teman saya suka menjahili dan membully saya, namun saya terkadang tidak merasa takut karena ada kakak terakhir saya yang menjaga saya walopun kami berbeda sekolah. Pernah suatu ketika saya dibuat nangis oleh teman saya, lalu ada yang melaporkannya ke kakak saya itu dan akhirnya dia datang ke kelas saya dan memarahi teman saya yang usil serta menjaga saya agar tidak menangis lagi. Ah, ini adalah kejadian amat sentimentil yang masih saya ingat hingga sekarang. Walaupun kakak saya yang terakhir itu hingga sekarang selalu bersikap cuek, namun dia memiliki satu sisi yang begitu perhatian kepada saya dengan caranya tersendiri. Selepas kakak terakhir saya itu lulus sekolah dasar dan kemudian melanjutkan ke sekolah menengah yang ternama di kampung kami, maka saya pun mulai belajar berinteraksi bersosialisasi dan mandiri dalam menghadapi keusilan teman-teman saya di sekolah maupun di lingkungan rumah. Jujur saya, ibu saya selalu mengajarkan kepada saya untuk tidak boleh membalas anak-anak yang usil kepada saya dan itu membuat saya jengkel sekali. Betapa tidak, mereka sudah jahat ke saya dan saya tudak boleh membalasnya, oh, mulia sekali hati ibu saya itu memang. Dan saya tertuntut untuk belajar stay cool, cuek gak peduli dan tidak baperan dengan keusilan teman-teman saya baik di sekolah maupun di lingkungan rumah.

Baik di lingkungan rumah maupun di sekolah saya memang sering diusili oleh teman-teman saya. Mereka tahu saya cengeng, saya mudah menangis dan saya tidak bisa membalas perlakuan mereka makanya mereka berpesta ria menjahili saya. Saya mah apa atuh, cuma anak yang dua tahun lebih cepat masuk sekolah dan belum siap mental menghadapi anak-anak yang kadang omongannya kasar seperti tidak pernah diajarkan oleh orang tuanya. Mereka senang sekali mengusili saya dengan topik keadaan ekonomi keluarga saya yang memprihatinkan bahkan untuk keinginan jajan es mambo yang berapa puluh/ratus perak saja susah, hingga bahkan tentang keadaan rumah tangga ibu bapak saya yang notabene nya sudah bercerai dan saya tercap sebagai ajak yang tidak punya bapak. Saya sudah amat sangat kenyang dengan bully-an teman-teman saya semasa sekolah dasar dulu. Dan saya amat membenci sekligus mensyukuri hal itu. Tentu saja saya membenci hal itu, siapa yang suka dibully sih? Masih kecil saja sudah berani mengejek-membully-memperlakukan seorang anak lain dengan kasar, mau jadi apa coba nanti besarnya? Tapi jika sekarang melihat kondisi kehidupan teman-teman saya semasa sekolah dasar dulu, saya pun merasa kasian terhadap mereka. Mereka tidak seberuntung saya yang bisa mengenyam tingginya bangku pendidikan, dan walaupun hampir semuanya sudah berkeluarga namun kondisi perekonomian untuk keluarganya itu harus diperjuangkan dengan sekuat tenaga. Maka dari itu, saya harusnya amat bersyukur dengan kehidupan saya ini, walaupun dahulu terasa sulit sekali rasanya tapi sekarang saya bisa sedikit demi sedikit memperbaiki dan memberi membantu untuk keluarga saya, orang-orang yang sudah berjuang demi kehidupan saya, demi apa yang menjadikan saya saat ini.

Saya lulus sekolah dasar di tahun 2003 dengan nilai yang memuaskan. Kalau tidak salah, wajtu itu saya dapat juara/rangking/peringkat ke-2, jadi hal itu memudahkan saya untuk masuk sekolah menengah yang terfavorit sekecamatan tempat tinggal saya. Oh iya, saya selama enam tahun bersekolah dasar di SD Anjunsari. Sekarang bangunan dan juga sekolahnya pun sudah tidak ada, sama ceritanya seperti SD Muhammadiyah di kisah Laskar Pelangi. Setelah lulus, saya melanjutkan bersekolah di SMPN 1 Pamanukan. Itu adalah sekolah yang sama tempat kakak keempat dan kelima saya menimba ilmu selama tiga tahun dengan perjuangannya masing-masing. Waktu saya diterima masuk di sekolah itu, kakak terakhir saya sudah lulus dan melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi, jadilah saya tidak satu sekolahan lagi dengan kakak saya itu seperti cerita sebelumnya. Keinginan kakak terakhir saya untuk bisa masuk ke sekolah terfavorit di tingkat kabupaten harus pupus karena ketidakcukupan dana yang ada. Wajar saja ibu saya lebih memilih menyekolahkan kakak saya di sekolah yang jaraknya masih dekat dengan rumah karena pada tahun yang sama pun saya harus masuk ke sekolah menengah juga. Ya, kakak saya masuk SMA dan saya masuk SMP, terbayang kan betapa sulitnya ibu mengatur perekonomian kehidupan keluarga kami dengan enam orang anak yang harus ditanggungnya sendiri walaupun memang pada tahun 2003 itu empat orang kakak saya sudah bekerja serabutan untuk membantu ibu saya.  Saya dan kakak terakhir saya adalah dua anak yang beruntung bisa mengenyam bangku pendidikan yang tinggi. Empat orang kakak saya hanya bisa bersekolah seadanya dan berjuangan bekerja membantu ibu untuk biaya hidup kami sekeluarga. Saya amatlah beruntung bisa hidup besar dan dididik dari keluarga yang seperti ini lah adanya. Karena itu, maka rasa terima kasih saya selalu saya coba tunjukan saya selalu bermimpi yang tinggi dan tentu fokus untuk memberikan yang terbaik untuk keluarga saya yang sudah berjuang demi saya. Semenjak sekolah dasar hingga lulus sekolah menengah pertama saat itu, saya selalu berusaha memberikan hasil belajar saya yang bisa membanggakan ibu dan kakak-kakak saya. Namun, waktu itu saya menjadi anak yang bisa dikatakan kurang bergaul, introvert, dan tidak cakap dalam bersosialisasi dengan teman-teman sebaya karena kepercayaan diri saya yang rendah. Saya tidak banyak dan tidak luas bergaul, saya penakut dan tentu juga pemilih yang sulit dekat dengan orang lain. Saya kebih banyak berinteraksi dengan guru, penjaga perpustakaan, hingga bahkan dengan pak satpam yang sering saya ajak ngobrol sepulang sekolah. Saya merasa dengan mereka lah saya merasa aman. Saya masih cukup trauma dengan kisah pembullyan sewaktu sekolah dasar dulu. Hal itu cukup dalam membekaskan luka dan ketakutan dalam diri saya.

Sejak sekolah dasar hingga menengah pertama saya hanya memiliki dua teman dekat. Namanya Devi dan Kiki. Saya sudah menganggap mereka berdua sebagai saudara saya. Karena keintrovertan saya itu, saya hanya bisa leluasa bercerita mengekspresikan diri saya kepada mereka berdua. Sekarang keduanya sudah berumah tangga dan memiliki anak yang sudah cukup besar. Jadi tolonglah jangan tanya kapan menyusul kepada saya, saya juga ingin, tapi hanya Tuhan yang lebih tahu kapan waktu terbaik untuk saya. Kepada Devi dan Kiki saya juga leluasa bercerita tentang keluarga hingga bahkan perasaan saya ketika saya menyukai seorang anak lelaki di sekolah. Sosok pertama yang saya sukai (kisah cinta monyet saya jaman itu) adalah anak lelaki yang bernama Zulfikar. Dia satu kelas dengan saya waktu saya kelas 7. Waktu itu hanya sekedar suka-sukaan saja memang. Biasalah kisah anak remaja yang pertama kali mengalami pubertas. Sekarang kalau saya ingat malah saya berfikir kenapa bisa menyukainya, haha. Memang sih dia pintar, mudah bergaul, atlet basket, dan juga sebagai salah satu saingan saya dalam memperoleh rangking di kelas, tapi kok saya bisa mempunyai rasa rusa terhadap teman sekelas saya itu ya? Terlebih lagi saya suka dia secara diam-diam selama tiga tahun lagi, sungguh hanya saya anak remaja pada jaman itulah yang tahu jawabannya.

Selama saya sekolah di tingkat menengah itu, selama tiga tahun saya tertarik dengan dunia informatika, maka akhirnya saya memilih ekstrakulikuler teknik komputer dan informatika. Tujuan utama saya waktu itu sih hanya sebatas memenuhi rasa penasaran, keingintahuan dan juga agar dapat gratisan utak atik komputer dengan segala kecanggihannya. Kapan lagi kan saya bisa berlama-lama sepuasnya main komputer yang pada saat itu sangat menjadi barang yang teramat keren dan tidak saya punyai. Selama tiga tahun saya menggeluti hobby saya itu, selama tiga tahun itu pula saya sedikit-sedikit mencicil medali kejuaraan dari beberapa perlombaan yang saya ikuti di sekolah. Tapi saya mah bukan apa-apa di sekolah, saya tidak famous seperti teman-teman saya yang lainnya yang pintar bercakap dan menampilkan image anak-anak kece di sekolah. Alih-alih ingin menampilkan kekecean, eh jika diperhatikan oleh orang lain saja saya malah mlipir ngumpet di pojokan. Aseli deh keintrovertan saya ini juara sekali lah. Maka tidak salah dan tidak apa-apa pula jika semasa sekolah menengah itu saya tidak banyak dikenal orang, saya pikir buat apa juga sih, tidak penting sekali, yang penting saya bisa berkarya dapat nilai oke dan bisa lanjut ke sekolah berikutnya. Sudah impian saya hanya sesimple itu saja.

Selain hobby mengotak-atik komputer, saya saat itu sangat senang membaca juga. Membaca buku-buku yang saya pinjam dari perpustakaan dan ataupun dari teman. Saya ga punya uang buat beli buku, buat uang jajan aja terkadang saya malah lebih banyak puasa senin-kamis nya. Maka buat saya ini adalah sebuah bentuk jalan perjuangan saya, kalau saya mau dapat ilmu dan pendidikan yang lebih tinggi maka saya harus rela menahan rasa haus dan lapar selama saya berjuang. Maka itulah salah satu alasan kenapa waktu itu kenapa saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk membaca di perpustakaan. Hidup itu berat, maka kita harus menrmukan sesuatu yang bisa meringankan. Aihsyedap!. Bacaan-bacaan saya waktu itu masih yang ringan-ringan, hanya seputar teenlit-fantasy-metropop saja. Bacaan seperti sastra melayu lama saya cuma baca sekilas saja dan kalau sedang atau habis dari mood yang bagus di pelajaran Bahasa Indonesia. Waktu itu guru Bahasa Indonesia nya tidak oke menurut saya, jadi wajar saja sih saya gak terlalu tertarik ke dunia sastranya. Semasa sekolah itu saya sedang minat-minatnya ke pelajaran Biologi dan Sejarah, walaupun memang guru sejarahnya tidak oke pula menurut saya, tapi Sejarah adalah yang memang saya suka sejak jaman SD. Saya gak akan pernah bosan dengan cerita masa perjuangan kemerdekaan, dengan tokoh-tokohnya pula. Maka ya bisa dilihat dari buku-buku yang saya baca hingga sekarang dan nangkring di lemari di rumah itu pun tidak akan jauh-jauh dari kisah kemerdekaan negeri ini. Saya suka saja, dan tidak perlu ada alasan untuk menyukai sesuatu (atau bahkan seseorang, ea).

Keadaan perekonomian keluarga saya sedikit demi sedikit berangsur membaik seiring perjalanan saya bersekolah di tingkat menengah ini. Walaupun begitu, keluarga saya memang masih dalam tahap terus berjuang hingga sekarang. Alhamdulillah nya saya dan kakak saya yang terakhir itu tidak menambah beban ibu dan empat kakak lainnya dengan tidak mengulang kelas atau bahkan tidak lulus sekolah. Tahun kelulusan sekolah menengah saya itu sama dengan kelulusan sekolah kakak saya yang terakhir. Kakak saya dan saya lulus dengan nilai yang memuaskan. Sayangnya setelah itu terjadilah perbedaan apa yang akan kami jalani ke depannya. Saya lulus memuaskan dan dapat dengan mudah diterima di sekolah terfavorit yang menjadi tempat kakak saya menim ilmu pula, SMAN 1 Pamanukan. Saya langsung bisa masuk tanpa test dan tanpa keribetan ini itu karena saya masuk lewat jalur undangan. Hal itu karena nilai yang saya yang lumayan besar. Saya tinggal masuk, hanya tinggal bayar uang daftar ulang saja, maka bereslah sudah. Namun lain hal dengan entah nasib atau takdir kakak terakhir saya ini. Kamu tahu, kakak saya ini memiliki keterampilan seni yang menurut saya menakjubkan (walaupun hingga sekarang memang rasa malasnya gak bisa ditahan, tapi kan orang seni ya begitu ya, mengerjakan sesuatu pakai mood, kalau mood rusak maka hancurlah sudah). Kakak saya sejak jaman sekolah dasar itu sudah sering menjuarai perlombaan seni semisal melukis-menggambar atau yang berhubungan dengan kreativitas. Kakak saya jago sekali. Semasa dulu lulus SMP dan dapat dengan mudahnya masuk ke SMA nya itu (yang juga jadi tempat saya belajar nanti) karena walaupun nilai akademiknya pas-standar-wajar-sedang tapi berkat nilai kesenian ia bisa masuk ke sekolah itu bukan dengan jalur belakang. Yah, waktu itu dibanding bayar jalur belakang mending juga uangnya buat makan. Sayangnya, impian kakak saya untuk menekuni keahliannya itu gak bisa terwujud di bangku perkuliahan. Kakak saya yang terakhir ga bisa lanjut kuliah. Gak ada biaya adalah alasan klise yang sungguh pada saat itu menyayat hati dan perasan. Kakak saya ingin masuk ke bidang arsitektur atau seni lukis di Universitas Seni Indonesia. Waktu itu sudah sempat mau diajukan oleh guru BK nya, hanya saja ibu dan kakak saya yang lain tidak menyanggupi karena masih terpikirkan untuk biaya sekolah saya yang saat itu akan menginjak masa SMA. Pada akhirnya setelah lulus SMA kakak terakhir saya bekerja bersama kakak ketiga-keempat saya di sebuah bengkel yang terkenal di kampung kami, kakak saya kerja di bagian modifikasi airbrush motor.

Yah, itulah garis besar kehidupan saya bersama keluarga saya yang hingga sat ini masih berjuang untuk kehidupan yang lebih baik tentunya. Dibalik apa yang saya peroleh – yang saya raih sekarang memang ada pengorbanan dari setiap orang yang telah berjuang untuk saya hingga saat ini. Banyak hal yang saya yakin saya lupa ceritakan di sini. Ingatan itu datang seperti ikan lumba-lumba yang mucul di permukaan air laut yang kemudian satu dan lainnya mulai berkejaran. Sebuah nostalgia terhadap kehidupan masa kecil yang sudah saya jalani dan penuh perjuangan yang amat menakjubkan.

P.S: saya lagi mikir apa saja yang sudah saya jalani, lakukan, lewati selama waktu SMA dan kuliah kemarin.

©Juls

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s