Cerita Dari Seorang Penyusup (3)

Hey, Mas, apa kabar? Aku harap kabarmu baik-baik saja seperti biasa dengan kesibukan mu yang masih saja selalu berkutat dalam proyek penelitian vegetasi flora pulau Sempu atau mungkin pembibitan yang ada di green house milik lembaga tempat kamu bekerja itu. Ah, tapi kemarin adikmu mengabari aku bahwa kamu sekarang sedang tergila-gila mempelajari suara burung sebagai langkah awal untuk mendukung penelitianmu yang lainnya. Ah, memang lah apapun yang kamu lakukan selalu tampak mempesona. 

Kegiatanku masih sama seperti biasanya, tidak jauh-jauh dari pekerjaan yang terkadang menjenuhkan. Aku masih saja leyeh-leyeh di dua minggu pertama dan mulai mengalami keriwehan mengejar target penjualan di dua minggu terakhir. Ya, hal itu masih sama saja seperti yang pernah kamu ketahui dulu. Rutinitasku itu memang membosankan sekali. Namun seperti yang kamu tahu, dipertengahan tahun 2016 ini aku sangat beruntung bisa bertemu dengan orang-orang baru yang membuat satu akhir pekanku di setiap bulan menjadi lebih membahagiakan. Di tahun ini pula aku bisa memperoleh izin dari ibu (walaupun seringkali diawali dengan adu argument karena sikap posesif ibu terhadapku) sehingga aku bisa lebih rajin pergi menghabiskan waktu berlibur bersama Mbak-Mbok. Waktu liburan panjangku memang seringkali diisi dengan kegiatan meet up bersama dua sahabatku itu, namun setelah pertengahan tahun ini terlewati, selebihnya waktu libur di akhir pekan mulai banyak aku habiskan untuk mondar-mandir dari Sumedang ke Garut untuk memenuhi misi kegiatan penyusupanku itu. Kegiatan penyusupan yang aku lakukan pada komunitas yang aku ceritakan di waktu lalu itu memang telah memberikan satu kebahagiaan tersendiri di hidupku. Selain bahagia karena mengenal beberapa orang baru, juga bahagia karena aku memperoleh satu bahkan hingga beberapa cerita baru yang terjadi (hingga bahkan cerita lain yang aku peroleh dari kawanku) sepanjang-selama perjalanan penyusupanku ini.

Kegiatan penyusupan kali ini sungguh menyenangkan sekali Mas. Sebenarnya jika dihitung-hitung ini adalah kali ketiga aku menyusupi kegiatan teman-temanku. Ya, ini adalah kali ketiga setelah acara camping di Kamojang dan kunjungan ke Gunung Masigit Kareumbi yang pernah aku ceritakan waktu lalu. Kali ini aku menyusupi kegiatan teman-teman JG yang amat bersemangat menemani rwkan kerjaku (re: Kafas) untuk mendaki Gunung Papandayan. Budget yang dikeluarkan kemarin menurutku cukup hemat, walaupun memang sebagian besar lebih banyak dialokasikan untuk biaya tiket tiket masuk dan biaya parkir serta ini itu yang harganya ‘ya gitu lah bisa bikin dompet tipis’. Info yang aku peroleh dari teman JG ku, hal itu terjadi karena TWA Gunung Papandayan ini sudah tidak dikelola langsung oleh BKSDA tapi oleh pihak swasta di daerah sana, sungguh sayang sekali ya Mas(?). 

Sama seperti cerita kunjungan kami ke Gunung Masigit Kereumbi Cicalengka waktu lalu, kegiatan penjelajahan kali ini hanya dilakukan selama sehari saja, alias tek tok. Memang sih perjalanan saat itu cukup melelahkan dan membuat dengkul kaki sebelah kiri ku terasa pegal.Walaupun memang waktu itu kami hanya berenam orang saja, aku, Kakaks, sosok A-B-C, dan teman perempuan (yang manja dan agak ribet) lain dari JG yang aku susupi selama ini. Menurutku kebersamaan bersama mereka itu memang tidak bisa digantikan oleh apapun. Waktu itu adalah kali pertama aku mendaki Gunung Papandayan (walaupun tidak sampai puncak) dan kali pertama pula aku melanggar peraturan selama aku menjadi seorang rimbawan, hehe. Sungguh memalukan sekali mas, serius. Ya, aku malu pada diriku sendiri. Bahwa aku telah melanggar dan aku sempat malah mengabadikan potret keindahan alam tempat yang terlindungi itu di akun Instagram ku, walaupun memang sekarang ini sudah aku hapus beberapa foto yang berkaitan dengan keindahan panorama salah satu cagar alam di sana.

Sebagai seorang Rimbawan, tentu aku-kamu dan teman-teman kita yang lain masih ingat mengenai pembagian kawasan konservasi di Indonesia berdasarkan UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Aku ingat dan paham betul bahwa Tegal Panjang dan Tegal Alun yang merupakan bagian dari Gunung Papandayan itu termasuk ke dalam Cagar Alam yang notabenenya untuk memasuki kawasan tersebut harus dengan Surat Izin Masuk Kawasan (SIMAKSI). Aku tahu bahwa selain Suaka Margasatwa, Cagar Alam juga adalah salah satu dari bagian Kawasan Suaka Alam yang hanya diperbolehkan jika kita melakukan kegiatan dengan kepentingan untuk penelitian dan pengembangan, ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kegiatan lainnya yang menunjang budidaya (*baca Pasal 17, Ayat 1, UU No 5 Tahun 1990). Aku dan kawanku yang lain memang telah melakukan kesalahan. Sudah mendatangi kawasan itu tanpa izin dan tentu pula bukan dengan tujuan atau kepentingan dari apa yang sudah aku sebutkan tadi. Kami hanya penasaran, ingin tahu seperti apa keindahan Tegal Panjang yang sering diperbincangkan oleh banyak orang. Dan pada akhirnya aku telah gagal karena melakukan dua kesalahan itu.

CA Tegal Panjang

Sepanjang perjalanan menuju hingga kembali dari CA Tegal Panjang itu aku memang lebih banyak mengamati sekitarku, sama seperti lima tahun yang lalu saat kita melakukan praktik lapang di CA Pangandaran. Walaupun pada bagian zona padang rumut itu dalam masa pemulihan akibat dari kebakaran hutan yang terjadi beberapa tahun yang lalu, namun untuk vegetasi hutan di sana masih bagus sekali loh, Mas. Aku banyak sekali menemukan beberapa pohon yang sudah tua dan sepertinya berdiameter lebih dari 50cm. Hutan di sana sangat lembab, hal ini aku ketahui dari banyaknya lumut yang hidup baik di lantai hutan maupun hingga batang pohon yang ada di sana dan kurangnya intensitas cahaya yang masuk hingga lantai hutan yang juga memang dipengaruhi oleh kerapatan vegetasi yang ada di sana. Selama perjalanan menuju ke CA Tegal Panjang, aku dan sosok A-C menemukan sekelompok Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) yang tengah bergelayutan di dahan pohon yang tinggi. Perjalanan kami diiringi oleh kicauan burung yang entah aku tidak tahu itu jenis apa. Selain beberapa hal yang aku sebutkan sebelumnya, aku pun menemukan vegetasi tumbuhan bawan invasif yang tumbuh di padang rumput CA Tegal Panjang. Aku menemukan beberapa jenis, dan yang aku ketahui hanya Tekelan (Eupatorium riparium Regel.) saja. Ya, itu pun beruntung aku dapat mengenalinya karena dulu aku pernah membaca skripsi temanku, Idel, yang melakukan penelitian analisis vegetasi tumbuhan bawah di Cagar Alam Tegal Alun yang jenis tumbuhan bawahnya tidak jauh berbeda dengan CA Tegal Panjang. 
Setelah perjalanan mengunjungi CA Tegal Panjang secara illegal ini, aku sadar bahwa memang sudah sepantasnya tempat itu dan juga Kawasan Suaka Alam lainnya itu jangan sampai terekspose ke media sosial apalagi hits di kalangan ‘anak muda alay’ macam aku ini. Aku memang mengakui bahwa aku ikut-ikutan dan menyalahi apa yang sudah aku ketahui sejak lama. Walaupun aku menerapkan peraturan untuk menjadi ‘Responsible Traveller’ saat bepergiar kemana pun, termasuk saat di CA Tegal Panjang, tapi dengan mengunjungi tempat itu tanpa izin maka bisa saja itu berarti aku tengah ingin bunuh diri. Ya, aku bunuh diri karena itu adalah area yang memiliki kekhasan baik flora maupun faunanya yang tumbuh-hidup secara alamiah atau tanpa dicampuri oleh campur tangan manusia. Bisa saja di tengah perjalanan menuju Tegal Panjang itu aku bukannya dipertemukan dengan Lutung, tapi malah bertemu dengan hewan buas yang hidup di sana. Semua perjalanan pasti memiliki resiko, dan itu adalah resiko yang amat besar yang harus aku tanggung. Maka dari itu, aku sungguh beruntung hanya bertemu dengan Lutung dan kawanan burung yang terus mengiringi selama perjalanan kami dengan kicauannya yang menggema. Dan aku pun amat sangat bersyukur memiliki teman, sosok A, yang dulu semasa kuliahnya hingga sekarang ini masih aktif menjadi anggota relawan Tim SAR dan menjaga kami selama perjalanan tek-tok Gunung Papandayan yang tanpa aku sadari ternyata itu amat melelahkan.  

Setelah perjalanan tek-tok ini aku menyadari bahwa kini kemampuanku dalam mengingat-mengobservasi jenis tanaman tidak lagi sebaik dulu. Sepertinya alangkah akan bergunanya dirimu, Mas, andaikan saja kamu ikut dalam perjalanan kali ini. Kamu mungkin sepanjang jalan akan menjelaskan mengenai beberapa jenis burung yang kita temui dalam perjalanan, atau bahkan bisa jadi kamu pun akan menjelaskan secara terperinci mengenai lokasi tempat yang kita kunjungi maupun vegetasi nya yang ada di sana. Aku tahu walaupun sekarang kamu menjadi peneliti tumbuhan, tapi minatmu jauh lebih besar untuk meneliti jenis burung yang hidup di Indonesia dan hal itu lah yang membuatmu bersemangat ketika menjelaskannya. Aku yakin, dengan adanya dirimu beserta kecerdasanmu dan kemampuanmu yang sangat baik dalam menjelaskan suatu hal secara rinci akan membantuku dalam mengerti-memahami-mengenal sesuatu hal yang baru. Ya, bukankah dulu kita pernah seperti itu(?).
ps: Juli berjanji tidak akan mengunjungi lagi Cagar Alam atau Kawasan Suaka Alam lainnya tanpa izin dan tidak akan lagi juga memposting foto keindahan alamnya. 

©Juli

    Advertisements

    Leave a Reply

    Fill in your details below or click an icon to log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

    Connecting to %s