Cerita Dari Seorang Penyusup (2)

Halo Mas Kecil. Kali ini ijinkan saya mencatut namamu untuk menemani saya bercerita sekian banyak hal yang belum juga terdengar olehmu secara langsung. Ah, sepertinya lebih baik saya gunakan ke-aku-an yang sudah biasa kita gunakan saja ya, Mas?. Tapi kamu jangan berprasangka yang kulakukan ini adalah modus terhadapmu, ini bukan untuk mendekatkan jarak antara kita, Mas, aku tahu itu hanya sebatas ilusi aku semata. Aku hanya ingin leluasa bercerita kepadamu seperti dulu, karena hanya denganmu dan Mbak Dep-Mbok Al lah aku bisa bebas bercerita apapun. Jadi tenang saja, jika kali ini aku mencatut namamu, nanti suatu saat pasti aku akan memiliki nama lain yang pantas-sah-rela ia kusebut namanya setiap waktu.

Mas, seperti yang sudah banyak kamu ketahui tentangku, aku memang memiliki banyak teman bermain dan selalu tampak riang bak truly extrovert sekali, walaupun memang aku menyimpan satu sisi lainnya. Aku yang lebih suka duduk di paling ujung alias tempat pojokan agar bisa melakukan hal kesukaanku yaitu memperhatikan orang/lingkungan yang ada di sekitarku, aku yang tidak suka dan akan merasa-menjadi sangat memalukan sekaligus tidak tenang jika menjadi pusat perhatian di antara orang-orang yang tengah berkumpul, aku yang lebih nyaman dengan sisi keintrovertanku ketika sedang bersama mereka yang banyak berbicara dan tampak terlihat dominant, bahkan hingga sifat/perangai/tingkahku yang sudah kau ketahui dengan baik. Kamu pun tentu mengetahui bacaan dari penulis lawas kesukaanku seperti Ahmad Tohari, YB Mangunwijaya, Marah Rusli, Pramoedya, Murakami, Coelho, Hemingway dan beberapa yang lainnya. Ya, kamu juga tahu selera musikku yang amat kontras sekali berkebalikan denganmu dan tidak akan jauh-jauh dari Layur, Banda Neira, Gardika, Efek Rumah Kaca, Barasuara dan musisi indie lainnya. Kamu mungkin mengetahui segala hal tentangku jauh lebih banyak bahkan jika itu dibandingkan dengan apa yang diketahui oleh ibu dan lima kakakku. Kamu bahkan mengetahui kekonyolanku, tingkah aneh dan beberapa kegiatan penyusupan aku dulu, serta bagaimana perubahan ekspresi yang tampak pada wajahku ketika aku bercerita segala hal baik itu yang membuatku tertawa bahagia, tersipu malu atau hingga bahkan menangis terisak saat aku bercerita ke padamu yang lebih banyak kita lakukan via telpon genggam.

Nah, Mas, tentang kekonyolanku yang suka menyusup semasa kita kuliah dulu, sekarang ini itu aku tengah melakukannya lagi loh. Kali ini aku tengah menyusup ke komunitas yang diikuti oleh teman kerjaku. Aku sudah mengikuti dua kali kegiatan mereka dan masih berencana untuk terus menyusupi walaupun aku tidak tahu entah sampai kapan akhirnya. Komunitas yang aku susupi ini fokus kegiatannya dalam menjelajahi tempat wisata di daerah Garut, Mas, dan ya kamu sudah bisa dengan mudah menebak bahwa komunitas itu memang beranggotakan orang-orang yang berdomisili/lahir/pindah-tinggal di Garut.

Aku merasa beruntung sekali bisa bertemu dengan orang-orang baru di komunitas itu, Mas. Pertama kali aku mulai menyusupi mereka memanglah sangat insidental dan tanpa persiapan sama sekali. Kalau tidak salah waktu itu setelah aku monthly meeting di Tasikmalaya, hari Sabtu 27 Juli 2016. Perjalanan waktu itu menjelajah kawasan Kamojang Garut, dimulai dengan mengunjungi Kawasan Konservasi Elang Kamojang yang dikelola oleh BKSDA Kabupaten Garut, lalu sore hari dilanjutkan dengan mengunjungi Kawah Kamojang yang letaknya di antara perbatasan Garut-Bandung, serta diakhiri dengan kegiatan camping di Situ Cibereum hingga hari Minggu pagi. Mas, waktu itu aku sungguh merasa senang sekali. Selain bisa mengunjungi tempat-tempat yang pernah kita pelajari di bangku perkuliahan, aku pun merasa seperti bertemu kawan yang sudah lama tak berjumpa. Entah kenapa aku malah mudah membuka diri pada mereka, mas, dan aku pikir sepertinya aku ‘kelewatan’ menampakan rasa nyamanku terhadap mereka. Selain dua teman kerjaku, yang salah satunya juga sama sepertiku menyusupi kegiatan mereka, saat penyusupan pertama itu aku dikenalkan ke banyak orang oleh teman kerjaku. Yah, maklumlah, waktu itu aku dibawa ke mabes (re: markas besar) komunitas mereka. Aku lupa siapa saja yang kutemui dan berkenalan di sana. Terlalu banyak nama dan wajah yang harus aku ingat, dan daya ingatku terhadap nama seseorang yang hanya kutemui sekali saja itu tak sedahsyat mengingat-memvisualisasikan jalan yang kulewati satu kali.

Kali kedua aku menyusup kegiatan penjelajahan mereka itu hari Sabtu kemarin, 13 Agustus 2016, Mas. Sama halnya dengan penyusupan pertama, untuk kali kedua ini pun aku rasa insidental sekali. Memang pada awalnya teman kerjaku itu mengajak untuk ikut mengjelajah Telaga Bodas yang letaknya di Kecamatan Wanaraja Garut, namun pada hari H aku berhalangan karena harus bertemu Pak HOA di kantor distributor. Jadi aku pun mengikhlaskan saja keinginan ikut serta dengan mereka yang walai pada akhirnya tidak terlaksana pula karena kondisi cuaca yang tidak mendukung. Teman kerjaku itu mengabari bahwa kegiatan kuliner lah yang akan dilakukan untuk menggantikan kegiatan Telaga Bodas yang batal itu. Seperti yang kamu tahu, Mas, karena aku tidak terlalu tertarik dengan kegiatan kuliner yang menurutku memberikan banyak resiko rasa-selera yang akan aku dapatkan jika aku melakukannya, maka aku sampaikan pada teman kerjaku yang lain untuk disampaikan ke teman kerjaku itu bahwa aku lebih memilih mengerjakan sisa pekerjaanku yang belum selesai. Namun, Tuhan itu memang maha dahsyat sekali kuasaNya, Mas. Temanku itu tiba-tiba pulang lalu mengajak aku ikut serta dan teman kerjaku yang lain yang tengah menghitung perlengkapan untuk event mendatang. Dan kali itu dalam hati aku hanya bisa bergumam, jodoh (dalam arti luas) itu gak akan kemana. Ya, Mas, jika Tuhan sudah berkehendak, jadi maka jadilah. Keren sekali bukan?.

Kegiatan yang akhir pekan lalu kami lakukan itu mengunjungi Gunung Masigit Kareumbi di Cicalengka Bandung, Mas. Itu loh, tempat di mana Taman Buru Kareumbi berada, yang dulunya dikelola oleh BKSDA Kabupaten Bandung Timur namun sekarang dipindah tangankan ke Wanadri. Ah, Mas, pengetahuan tentang kawasan konservasi yang aku ceritakan seperti ini mah sudah menjadi menu harian perkuliahan di jurusanmu, dan mungkin seperti biasa kamu sudah hapal di luar kepala. Kamu ahlinya dan aku tidak usah bercerita panjang saja.

Selama dua kali aku menyusupi perjalanan penjelajahan komunitas itu, aku senang memperhatikan orang-orang yang ikut serta dan aku mengenal mereka secara langsung, Mas. Aku memang hanya terbuka-mengenal dan merasa nyaman dengan beberapa orang saja sih. Mereka orang-orang yang menyenangkan buatku, Mas. Kamu harus sabar ya jika sekarang aku akan menceritakan mereka satu per satu. Tenang, mereka yang kukenal-nyamani itu hanya lima orang saja dan itu tidak termasuk dengan dua teman kerjaku yang sudah lama dekat denganku. Jadi kamu jangan bosan ya, Mas!

Mas, sosok yang pertama ini sebut saja dia A. Menurut perkiraanku sepertinya dia berusia sama seperti kakak terakhirku, a Ade Okta Vian. Namun bedanya sosok A ini sudah berkeluarga dan mempunyai dua orang anak, sedangkan kakak ku itu masih saja betah membujang hingga sekarang yang tentu saja menyelamatkanku dari pertanyaan sosial yang sering menghantui para muda mudi single masa kini. Selain tipikal hot-dady, menurutku sosok A ini merupakan sosok kakak-able sekali loh Mas. Aku bisa langsung ‘klik’ dan merasa leluasa saja saat berkomunikasi dengannya mungkin karena kepribadiannya yang ramah, sholeh, pekerja keras (yang aku lihat dalam membangun-mengembangkan usaha kedai susu yang tersohor di bumi Garut itu), membumi, lugas dan ekspresif bahkan saat membercandai aku yang seringkali malah bersikap konyol dan memalukan di depannya. Tapi sayangnya sosok A ini sudah menyandang gelar hot-dady alias double plus plus ya Mas, kalau tidak mungkin dia yang dengan halal namanya akan ku sebut menggantikanmu. Hehe, ngimpi !

Nah, untuk sosok kedua, sebut saja dia B. Dia itu sosok wanita sunda lemah-lembut-baik nan tangguh menurutku. Dia seorang wirausaha pula sama seperti sosok A loh, Mas. Pangsa pasar dari usaha yang dirintisnya berupa kering rawit dan bakso aci nya itu sudah ada di mana-mana, bahkan hingga ke luar negeri. Sungguh keren sekali lah sosok wanita yang aku kagumi diam-diam ini. Aku suka keramahan, kelucuannya ketika bercerita, kepedulian, dan tentu juga tentang keriwehan serta kegalauannya dalam bertemu jodohnya. Ya, sosok B ini belum menikah, Mas, dan menurutnya hal ini lah yang sekarang menjadi problem utama dan kekurangan di hidupnya itu. Usianya mungkin sebaya pula dengan kakak terakhirku yang masih membujang itu. Maka tak heran jika menemukan jodoh itu adalah hal yang amat urgent. Semoga saja Tuhan segera mempertemukan dia dengan jodohnya ya, Mas. Oh, iya, dia juga suka hasil karya foto-fotoku yang tak seberapa ketika mengambil potret dirinya baik disaat dia bergaya ataupun secara candid loh Mas. Ya, jika kamu  masih stalking akun Instagram ku seperti dulu, pasti kamu akan menemukan potret dirinya yang tengah tertawa lepas bersama dua temanku yang lain. Seperti yang kamu tahu, aku memang lebih suka mengambil-mengunggah potret orang lain dibandingkan diriku sendiri, karena aku terkadang merasa malu jika berdiri-bergaya-sendirian untuk difoto oleh orang lain lalu mengunggahnya ke media sosial, aku malu orang laim memperhatikanku. Menurutku B adalah sosok yang menyenangkan dan dapat membuat orang yg berbincang dengannya menjadi senang. Buatku, bisa berkenalan dengannya itu sungguh amat berkesan.

Sosok ke tiga dan ke empat, C dan D adalah sosok yang aku anggap mereka sebagai adik aku sendiri. Walaupun sebenarnya salah satu dari mereka berdua tak ingin aku anggap sebagai adik, tapi ya bagaimana, mereka berdua itu berusia di bawahku satu tahun, Mas. Jadi jika aku itu kelahiran 92 dan sekarang ini berusia 24 tahun, maka keduanya itu kelahiran 93 dan berusia 23 tahun. Mereka berdua tipikal dedek dedek menggemaskan dan enak untuk aku bercandai-mintai tolong-bercerita loh, Mas. Menurutku sah-sah alias dianggap wajar saja jika kamu tahu aku kadang merengek-bersikap manja terhadap mereka berdua, toh sepertinya tidak ada kebaperan yang dihasilkan pada akhirnya. Mereka berdua masih kuliah, satu jurusan, satu kelas dan sekarang sedang menyusun skripsi. Selama yang aku amati hingga sekarang, menurutku keduanya sangat kontras sekali perbedaan kepribadiannya, Mas. Sosok C itu sangat humoris-periang-peramai suasana, namun sosok D selalu dengan tameng cool-introvert-misterius buatku. Jika aku berbincang santai dengan sosok C, maka yang aku dapatkan pasti rasa senang dan tak pernah bosan, selalu ada saja yang dapat kami perbincangkan. Nah, lain hal jika aku berbincang dengan sosok D yang menurutku dia itu sosok suami-able sekali dan sepertinya banyak yang jatuh hati kepadanya karena kepribadiannya yang ‘tidak pernah diam’ untuk membantu orang. Mas, buatku dia sosok yang menarik dan seru jika berbincang dengannya. Dia banyak mengajari aku mengenai kegiatan outdoor, ya, sama sih seperti kamu dulu. Ah, sayangnya dia berusia di bawahku ya Mas, kalau saja dia berusia lebih tua dariku mungkin aku akan meneruskan rasa jatuh hatiku terhadapnya sejak pertama kali aku menyusup-berkenalan-berbincang dengannya di penjelajahan Kamojang. Walaupun dari yang sudah aku amati hingga sekarang ini aku merasa dia cenderung introvert sepertimu Mas, namun pertemuan dengannya sejak hari penjelajahan Kamojang itu cukup memberikan kesan yang menyenangkan buatku dan aku merasa nyaman saja jika berada dekat dan leluasa meminta tolong kepadanya. Ah, menyenangkan sekali lah Mas rasanya mengenal sosok dedek gemez broh dan dedek gemez yang suami-able itu. Aku bilang juga apa, setelah kamu pergi maka aku akan banyak bertemu dengan sosok suami-able yang lebih menyenangkan. Huh!

Mas, kamu jangan menekuk wajahmu karena bosan mendengarkan ceritaku yang menurutku juga cukup panjang. Kali ini aku akan menceritakan sosok ke lima, sosok terakhir, sosok pemegang kunci alias kuncen alias inti dari yang telah ku ceritakan. Namanya cukup panjang dan mampu menyaingi kekerenan nama keluargamu, tapi kamu cukup mengenal dia sebagai E, itu saja. Dia adalah sosok yang seringkali aku amati diam-diam semenjak pertama kali aku bertemu-berkenalan dengannya di mabesnya itu. Kata temanku, dia adalah co-founder dari komunitas yang aku susupi sejak bulan lalu. Hal itu didukung pula oleh keterangan yang tertulis di kartu nama yang diberikannya kepadaku akibat dari hasil ceng-cengan temannya dan temanku itu. Sungguh hal yang amat memalukan jika aku mengingat kembali apa saja yang sudah terjadi-diperbincangkan di akhir pekan lalu. Hingga saat ini aku cukup banyak tahu tentang dirinya dari apa yang dia ceritakan kepadaku secara langsung saat kegiatan pertama hingga kegiatan terakhir kemarin dan juga dari teman kerjaku yang gemar menceritakan isi tumblr sosok E dan apa yang dialami-dibicarakan oleh sosok E. Mas, sepertinya temanku itu amat senang sekali dan terobsesi untuk menjodohkan aku dengan dia. Sungguh suatu kegilaan yang amat besar dan patut untuk aku balas dengan rasa terima kasih atas kepeduliannya itu terhadap nasib single akibat ditinggal kamu dan belum bisa membangun rumah yang ada tangganya. 

Banyak hal yang aku ketahui semenjak pertemuan kedua akhir pekan lalu. Dia, sosok E, secara sendirinya terbuka-bercerita panjang tentang kisah hidupnya-kisah cintanya-selera bahan bacaannya-selera musiknya-dan hal lainnya yang sepertinya aku lupa. Usianya dua tahun di atasku dan tentu saja dia satu tahun lebih tua dari mu, ya, Mas. Dia seorang asgar sunda sejati yang mengenyam bangku perkuliahan teknik industri ITB sejak tahun 2008. Mas, setelah aku tahu tentang sosok E ini, aku merasa sepertinya aku dan sosok E ini memiliki beberapa kesamaan. Aku baru tahu kalau dia penyuka Banda Neira dan juga ERK, aku baru tahu kalau dia dulunya pembaca Pramoedya, dan juga aku baru tahu bahwa kisah cintanya kandas berakhir lebih menyakitkan jika dibandingkan dengan aku terhadapmu yang tak seberapa. Kamu harus tahu Mas, aku kagum sekali dengan cara berpikirnya, kecerdasannya dan kepribadian introvert nya yang menurutku cukup mengesankan. Dia jauh melesat lebih terbuka jika dibandingkan denganmu. Bukan maksudku membandingkanmu dengan nya, aku sadar kamu dan dia adalah sosok yang memiiki keistimewaan masing-masing. Sejak awal aku bertemu dengannya aku sudah merasa bahwa dia memiliki kecenderungan/sifat introver dalam dirinya. Hal itu pula lah yang membuatku segan-tak leluasa untuk mengajaknya berbicara. Bukan aku bingung mau berbicara apa, aku hanya khawatir mengganggu kekhidmatan atas apa yang dia pikirkan sendiri dalam diamnya. Aku bahkan kadang merasa lebih merasa nyaman dengan kediamannya, dan semoga saja suatu saat dapat memiliki kesempatan untuk sama-sama diam dan hanya memperhatikan-menikmati keadaan pemandangan sekitar tanpa harus riweh dengan mengabadikan kenangan dengan mengambil gambar. Menurutku, E adalah sosok yang bertanggungjawab yang mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik, dan dia sosok yang pintar dalam bersikap sesuai dengan keadaan dan yang ia mau.

Mas, aku memang baru mengenal-mengamatinya dalam dua kali pertemuan, namun aku selalu merasa mendapatkan suatu kejutan-hal yang baru saat bertemu dengannya. Maka dari itu, Mas, aku merasa dia sosok yang secara diam-diam amat menarik dan worth it untuk aku perhatikan. Mas, apakah kamu masih ingat scene bagaimana cara Arinda ketika menatap sosok bernama Genta di film 5cm yang sangat fenomenal itu?. Ya, mungkin seperti itu pula lah yang kini tengah aku lakukan jika sosok E menceritakan-menjelaskan sesuatu kepadaku. 

Anggap aja aku Arinda dan dia Genta nya, ea.

Aku sadar betul bahwa aku mungkin termasuk dalam salah satu anggota himpunan yang menyukainya sedangkan dia tak menyukaiku karena dia lebih tertarik pada anggota himpunan lain yang juga pada akhirnya tak memerikan satu irisan apapun layaknya sebuah konsep diagram venn di mata pelajaran Matematika, maka dari itu, dengan caraku mengagumi pribadinya secara diam-diam saja adalah langkah yang sudah cukup adanya. Dengan cara ini aku tak akan menuntut-menginginkan apapun terhadapnya karena aku sendiri pun amat dengan sangat mengerti akan posisiku. Kekonyolanku-rengekan suaraku-keanehanku-ketidakmenarikan parasku-ketidakcerdasan-biasa sajanya diriku yang sering tampak dihadapannya itu bukanlah yang pantas jika berharap ingin membersamainya. Ya, mana mungkin pula dia akan terkesan terhadapku. Kali ini aku hanya khawatir-takut apabila sosok E akan merasa tidak nyaman karena hal ceng-cengan yang aku yakini sebagai becandaan/godaan dari temanku dan temannya saja. Semoga dia tidak terganggu akan hal itu, sehingga aku tidak merasa bersalah dan dapat dengan nyaman untuk terus bersikap wajar/biasa saja saat kembali/seterusnya bertemu-berhadapan dengannya. Tenanglah, Mas, aku sudah cukup mahir untuk menjaga hatiku untuk tidak lagi terlibat dengan perasaan yang tidak jelas akan berakhir bagaimana. Cukup denganmu dan kakak kelasmu itu duniaku terasa menjadi jungkir balik tak menentu. Maka sekarang ini yang aku inginkan hanyalah hal-hal biasa saja, suatu kehalalan-ketenangan hubungan,  bukan roman picisan penuh drama. Maka dari itu lah, biarkan sosok E ini selalu tampak manawan dengan caranya di mataku dan aku tetap menjaga untuk tidak merasa kepaberan pada akhrinya. Kisahnya dan harapanku hanya sesederhana itu saja.
Nah, Mas, itulah yang ingin aku sampaikan pada dirimu sejak kita berbincang beberapa minggu yang lalu. Kini kamu sudah tahu apa yang tengah dan siapa sosok inti dari yang aku amati dalam kegiatan penyusupanku selama ini kan?. Doakan aku ya, Mas, semoga Tuhan menjodohkan aku dengan sosok yang sudah lama aku kenal dan dia mengenalku dengan baik pula. Jujur saja, seperti yang kamu tahu, aku amat malas jika harus menjelaskan mengenai diri dan keluargaku secara keseluruhan pada orang baru. Semoga setelah selesainya rumah yang belum ada tangganya itu, Tuhan merestuiku untuk membersamai hidup seseorang yang ternyata adalah temanku, serta yang juga akan membersamai hidupku setelah tahun berganti menjadi yang baru. Semoga drama kepergian kakak kelasmu dan dirimu otu tidak akan terjadi lagi seperti dua tahun lalu.

ps: Dear Mas Kecil, semoga kamu bete karena panjangnya ceritaku. Haha.

©Juls

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s