Membangun rumah yang belum ada tangganya.

Kali ini saya mau bercerita tentang rumah, bukan dalam definisi amat sentimentil, tapi lebih ke fungsional. Ya, rumah, sebuah tempat dari berbagai kisah kehidupan seseorang dimulai – tempat yang digunakan seseorang untuk bernaung dari panas terik hujan badai. Bagi mereka yang masih melajang, bercerita tentang rumah itu amatlah sensitif. Betapa tidak, ketika sesorang yang belum mendouble alias masih single, dan membicarakan terkait rumah dengan teman nya pasti ada saja salah satu diantara teman-temannya itu yg berseloroh ria seperti “bangun rumah yang belum ada tangganya udah bisa, kapan kamu mau nyari si tangga buat buat melengkapi isi rumahnya? Hahaha”. Asyem!. Itulah satu kata yang amat pas untuk membalas seloroh yang saya pahami sebagai bentuk godaan-kecengan-kejahilan seorang teman.

Menurut saya, membangun sebuah rumah yang belum ada tangganya bagi seorang yang hingga saat ini masih belum dipertemukan dengan jodohnya itu amatlah sulit. Serius, suer deh!. Saya yang hanya berpenghasilan tak seberapa ini tapi tertuntut oleh desakan ibu saya yang amatlah visioner sekali untuk membangun rumah meski belum berstatus sebagai istri seseorang yang sah. Ya, wajarlah jika pemikiran seorang ibu itu demikian, karena pencapaian/settle-nya si anak sebelum menikah itu adalah bentuk harapan besar yang diinginkannya hingga saat ini. Maka Saya yang semenjak kandasnya rancangan keidealisan hidup saya sendiri itu jadi menuruti realita kehidupan yang ada dan menjalankan saja apa yang dirancangkan ibu saya dengan niatan untuk membahagiakannya karena saya sendiri sudah tidak bisa berbuat apa-apa untuk jalan hidup yang amatlah saya cita-citakan sebelumnya. Ya, kisah membangun rumah yang belum ada tangganya ini memang sangatlah rumit, complicated namun tetap harus saya syukuri sekali lah pada akhirnya. Saya yakin saja, jika Tuhan mempermudah saya dalam menyelesaikan tanggung jawab ini mungkin memang Tuhan mempercayakannya pada saya dan ini adalah takdir saya yang harus saya jalani dan perjuangkan.

Saya bukan berasal dari keluarga mampu-kaya. Saya terlahir dan dibesarkan dari keluarga 3S, sangat sederhana sekali. Hingga sekarang pun kehidupan keluarga saya masih menganut ajaran 3S itu. Namun saya merasa beruntung sekali dengan kehidupan yang saya jalani hingga sekarang ini. Saya sangatlah sadar bahwa tidak ada hidup yang sempurna, dan dengan lahir-besar-dan hidup di keluarga inilah saya merasa sudah cukup alhamdulillah saja. Bagaimana kisah hidup saya hingga usia 24 tahun sekarang ini mungkin akan nanti saya ceritakan, kali ini saya ingin bercerita tentang ‘sesak’ nya dalam membangun rumah yang belum ada tangganya itu ketika saya masih sendirian soalnya yang diajak mendouble malah udah pergi sejak kapan eh. Seperti yang saya sampaikan di awal, ibu saya itu seorang visioner sejati, maka tidak salah jika anak-anaknya terdoktrinisasi pula pada akhirnya. Saya dan kelima orang kakak laki-laki saya itu semuanya visioner alias tukang ngimpi. Iya, mimpi untuk ini itu dan sebagainya dan sebagainya. Kami senang bermimpi bersama dan mengejarnya bersama pula. Yah, itulah keindahan masa pendewasaan saya bersama mereka, disamping saya harus belajar menerima bentuk kehidupan yang harus saya jalani sekarang dengan merelakan keinginan dan passion yang harus ditinggalkan di belakang. Walaupun begitu semoga akan bisa saya kejar kembali tiga tahun mendatang, aamiin. 

Seperti sosok Kabul dalam novel Orang-Orang Proyek yang tertekan sendiri karena harus merelakan mimpinya.

Suatu ketika, dengan bawaan kevisioneran itu saya pernah berseloroh ria kepada ibu saya saat pulang liburan kuliah yang entah itu di semester ke berapa. Saya berseloroh ria nan panjang tentang mimpi-mimpi saya dan juga termasuk dengan keinginan membangun rumah sendiri. Pada masa itu, belum terlintas sama sekali di pikiran saya tentang mimpi menikah-membangun rumah tangga – membina keluarga cemara. Segala hal yang saya ceritakan ke ibu tak lebih dari rencana pencapaian masa muda saya. Dan seperti biasa, ibu saya mengaminkan dan mulai menceramahi saya dengan berbagai macam hal. Namun yang penting saya sampaikan sekarang ini adalah tentang peran serta perempuan terkuat dan hebat di hidup saya, karena do’a beliau yang amatlah kuat dan maha dahsyat itu lah segala apa yang terjadi pada saya – segala apa yang saya miliki sekarang itu bisa dicapai diperoleh bahkan dengan cara yang tak pernah saya duga.

Peran serta ibu saya dalam membangun rumah yang belum ada tangganya ini tidak terkalahkan oleh siapapun yang turut membantu saya pula. Karena baliau lah, maka saya ini bisa kuat menahan ‘sesak’ nya membangun rumah yang belum ada tangganya. Beliau yang berani menentukan kapan waktu pembangunan yang kalau menurut saya sendiri itu sangatlah tidak mungkin dilakukan dalam waktu cepat karena mengingat kondisi saya dan juga isi tabungan hasil banting tulang dari Senin hingga Jumat yang sepertinya untuk beli bahan bangunan saja akan susah. Yah maklumlah, Juli tahun 2014 lalu kan saya sedang dalam masa periode super galau ingin resign dan melanjutkan sekolah untuk bisa mengejar apa yang sudah saya cita-citakan sehingga yang ada ditabungan hanyalah penjumlahan sisa tabungan ngajar part time semasa kuliah plus enam bulan salary saja, terbayangkan cuma berapa? Ini malah ibu udah berani mau bangun rumah aja. Walaupun kadang saya bingung apakah ini suatu keberuntungan atau bukan, tapi saya sebenarnya amatlah malu dengan pembangunan rumah ini. Saya bisa membangun rumah ini memang sangatlah dibantu oleh ibu saya – karena ibu saya memberi saya sebidang tanah sebagai bentuk warisannya untuk saya, saya malu sekali karena hal itu. Memang sih ibu saya sudah sejak sekitar enam tahun lalu atau sekitar beliau berusia lima puluhan itu membagikan lahan yang dimilikinya menjadi warisan untuk enam anaknya, yaitu kelima kakak dan juga saya ini dengan harapan tidak terjadinya perdebatan ketika ibu meninggal. Maka dengan sudah jelas pembagian lahan itulah yang membuat ibu giat sekali menyuruh kami beberapa anaknya yang belum memiliki tempat berteduh sendiri untuk segera membangunnya. Saya memang anak perempuan satu-satunya dan terlahir bungsu di keluarga, sehingga saya yang memiliki tanggung jawab untuk merawat ibu saya kelak hingga akhir hayatnya. Hal ini sesuai keinginan ibu saya sendiri dan juga sesuai harapan saya, sehingga pada akhirnya memang saya pun sangat berharap apabila kelak saya menikah maka suami saya harus ikhlas jika ibu saya ikut di manapun saya tinggal. Itulah mungkin hal pertama yang akan saya sampaikan bila saya kelak bertemu dengan jodoh saya. 
Sudah selama dua tahun ini saya membangun rumah yang belum ada tangganya, namun sayangnya hingga detik ini pun belum selesai-selesai juga. Jika dilihat dari sisa pekerjaan yang harus dilakukan itu termasuk dalam tahap finishing. Sekarang ini memang hanya tinggal pemasangan flafon lalu pengecatan dinding dan dilanjutkan pemasangan keramik serta diakhiri di bagian teras depan rumah serta pagar dan taman saja. Namun tahukah kamu betapa beratnya-susahnya-sesaknya-besarnya uang yang digunakan untuk menyelesaikan pembangunan rumah saya itu? Mengertikah kamu rasanya harus menahan mengikhlaskan keinginan untuk membeli seperangkat persenjataan fotografi alias kamera yang sudah kamu idam-idamkan sejak lama tapi karena isi tabungannya itu berulang kali harus dialihkan untuk menyokong budget dalam membangun rumah yang belum ada tangganya itu maka pupus lah sudah jadinya, dan kuatkan kamu melawan gelora hasrat jajan buku dan lanjalan yang harus terus tertahan karena alokasi dananya malah digantikan untuk beli semen besi batu bata demi membangun rumah yang belum ada tangganya. Sungguh lah saya saja terkadang bosan memikirkannya. Betapa tidak? Saya ini single, dompet saya satu, tabungan saya cuma segitu, tapi harus menyelesaikan rumah yang kalau menurut saya itu untuk kemampuan mereka yang sudah berdua. Secara kalau berdua kan dompetnya ada dua, maka isinya gak lagi seadanya, ditambah mikirnya pun bakal sama-sama, kan enak gak nelangsa. Hmmmm.

Yah, seperti itu lah gambaran sesingkat singkatnya tentang perjuangan dua tahun lewat satu bulan dan mungkin masih lanjut berkepanjangan dalam membangun rumah yang belum ada tangganya dan belum selesai-selesai juga. Mohon doanya lah ya!

ps: Nah, buat kamu jodoh saya yang walau masih entah dimana, dan yang nantinya akan membersamai saya dan saya membersamai kamu, tidak usah takut saya akan menghabiskan uangmu buat jajan, tuh, itu hobi saya jajan buku sama lanjalan aja rela ditahan demi masa depan. Eaa~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s