Apakah anak bungsu itu selalu manja?

Manja adalah kata yang pada umumnya sering terlintas di pikiran kita saat kita membaca/mendengar bahwa seseorang terlahir sebagai anak terakhir di keluarganya, bungsu. Ya, kita seringkali mendapati hal demikian. Melihat seseorang dengan sifat manja yang melekat pada dirinya, terkadang membuat kita menebak bahwa sepertinya orang tersebut terlahir sebagai anak bungsu di keluarganya. Dan tak jarang orang berpikir demikian pada saya. Saya sebagai anak perempuan satu-satunya dan terlahir dengan predikat bungsu di keluarga saya itu pun tak mampu mengelak jika ada seseorang yang bertanya. Walau kadang saya tidak menyukai hal itu, saya mengakui bahwa saya bungsu yang ter’cap’ sebagai anak manja.

Saya amat khawatir jika posisi-urutan lahir seorang anak di suatu keluarga adalah hal yang menjadikan dasar dari seseorang dalam menilai kepribadian si anak tersebut. Lalu, jika anak terakhir amatlah dikenal dengan sifat kemanjaannya itu, apakah anak pertama yang biasanya kita sebut sebagai anak sulung itu akan selalu terlahir dengan sifat kemandirian?. Jika benar demikian, saya merasa ada kesalahan dalam mengenal pribadi seseorang. Dengan kita menganggap bahwa anak sulung itu mandiri dan anak bungsu itu manja, itu sama saja seperti kita mengeneralkan suatu hal yang tak patut. Kita tak dapat dengan mudah pula mengatakan seseorang sebagai anak mandiri atau bungsu hanya karna hal yang sebagian besar orang percayai.

Sebagai pengalaman besar di hidup saya yang notabene sudah menyandang gelar tersebut sedari kecil, saya amat merasa muak jika ada seseorang yang berkata demikian. Hey, apakah karena saya anak terakhir dan saya perempuan di keluarga saya maka saya ini adalah anak manja? Apakah karena saya ketika berbicara-berbincang nyaman ringan-bermain dengan teman saya lalu mendapati nada suara saya yang berubah seperti rengekan anak kecil lalu teman saya itu berhak menilai saya sebagai anak manja? Apakah karena saya dengan tingkah laku yang ditunjukan dan sifat keriangan dan tampak berusia dibawah usia asli saya itu adalah hal yang menjadikan saya sebagai anak manja? Jika memang benar karena demikian, maka betapa menyedihkan dan sempitnya cara seseorang dalam mengenal saya.

Amat menyedihkan memang jika seseorang mengenal saya sebagai seorang anak bungsu dengan digelari sifat kemanjaannya. Dan saya harus berusaha memaklumi bahwa mereka belum mengenal baik diri saya, belum tahu kehidupan saya, belum mengerti dengan baik dua sisi kepribadian saya. Terkadang, itu cara terbaik untuk menerima keadaan – membiarkan orang berpikiran liar terhadap saya – menjatuhkan rasa kepercayaan diri saya pula. Biarlah.

Bungsu adalah anugrah yang selalu saya syukuri terjadi di kehidupan saya. Saya terlahir menjadi anak perempuan satu-satunya di keluarga saya dan hidup berkembang mendewasa dengan lebih banyak didominasi lima orang saudara laki-laki yang amat menyayangi saya – melindungi saya – menginginkan saya menjadi sosok dengan kepribadian yang lebih baik. Manja adalah tingkah laku/sifat yang saya tunjukan pada seseorang yang sudah saya percayai – dekat dengan saya dan saya merasa nyaman dengan orang tersebut. Ya, walau tak jarang ketika pertama kali bertemu dengan seseorang saya akan langsung menampakan keriangan-rengekan karena saya merasa nyaman terhadapnya, namun saya ini pemilih. Saya yang begitu piawai untuk menyembunyikan-menampilkan topeng satu ke topeng lainnya-mengatur memilih apa yang harus saya pendam dengan apa yang harus saya tampakan. Saya memiliki dua sisi yang malas untuk saya ceritakan pada mereka yang belum mengenal saya. Saya ambivert, dan saya lelah menjadi demikian. Saya ambivert dan saya bosan harus dikomentari terus-menerus oleh seseorang yang belum mengenal saya dan terkejut melihat perubahan intonasi nada berbicara saya yang dianggapnya sebagai bentuk kemanjaan belaka. Cukuplah orang menilai saya sebagai anak bungsu dengan kemanjaan dan perangai riang gembira yang selalu nampak di depan muka. Toh, saya pun khawatir pula jika terlalu banyak orang yang mengetahui diri saya yang sebenarnya.

Saya bungsu, ambivert, dan ke depannya harus lebih lihai dalam memainkan topeng-topeng untuk digunakan setiap harinya.

Maaf, kekasih, ingatanku terbatas. Bahasa dan topeng dua-duanya kedok. Tapi aku hanya mengingat topeng.  -Sujiwo Tejo

©Juls

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s