Cerita Dari Seorang Penyusup.

Jika menyusup adalah suatu perbuatan tidak baik, maka saya telah berulang kali melakukan hal itu sejak lama. Ya, saya ketagihan menjadi seorang penyusup semenjak memulai kehidupan bangku perkuliahan. Dari menyusupi kelas perkuliahan orang lain hingga menyusup ke suatu komunitas orang lain pun saya suka lakukan. Tentu hal itu didasari karena rasa ketertarikan/keingintahuan saya terhadap mata kuliah/komunitas/lingkungan yang menjadikan saya berulang kali hingga bahkan pernah resmi didaulat menjadi anggota komunitas karena frekuensi kegiatan mereka yang sering saya ikuti. Namun, tak jarang pula ketika rasa penasaran untuk mengetahui sesuatu itu malah saya hentikan di tengah jalan. Terkadang hal itu disebabkan oleh rasa ketertarikan saya yang menghilang dan digantikan oleh rutinitas yang membosankan sehingga akhirny malah mengompori saya untuk berbalik meninggalkan dan berhenti untuk menyusupi lagi. Saya ini memang orang yang memiliki rasa penasaran yang cukup besar, namun saya juga amat mudah sekali bosan dengan rutinitas yang saya rasakan kurang menyenangkan. Yah, itu lah.

Menurut saya, kegiatan menyusup itu sangat menyenangkan. Jika itu berkaitan dengan mata kuliah yang saya sukai, maka saya akan dengan amat rela duduk manis-mencatat hal yang menurut saya penting-hingga mencari membaca bahan ajar/jurnal/buku-buku yang mendukung saya untuk lebih tahu-mengenal-menguasai mata kuliah yang saya gemari itu. Saya tidak akan perduli dengan tatapan mbak-mas pengisi kelas yang terkadang heran dengan kedatangan saya yang tiba-tida di kelasnya dan ditambah duduk di bagian paling belakang yang notabene sering dikenal sebagai golongan datang-tidur-pulang. Nah, lain hal nya jika kegiatan menyusup itu berkaitan dengan perkumpulan/komunitas dengan fokus kegiatan mereka yang memikat hati saya. Saya tidak akan jauh-jauh dari komunitas seni, buku dan tentu mereka yang suka menjelajahi alam. Masa kecil hingga remaja tanggung saya itu sebagian besar hanya dipenuhi dengan kegiatan mendekam di dalam rumah, karena kamu tahu lah bahwa saya ini anak perempuan satu-satunya yang lima orang kakak laki-lakinya lebih banyak menghabiskan aktivitas di bengkel, arena balap dan pekerjaan mereka masing-masing. Sedari kecil saya ini anak rumahan yang jika telat pulang sekolah satu jam saja akan ada perbincangan serius saat menjelang malam. Saya ini anak pingitan, jadi kalau saya menjadi liar saat hidup terpisah dari ibu dan abang itu sebagai hal yang wajar.

Dulu, selama empat tahun itu, kegiatan menyusup merupakan kegiatan yang menyenangkan. Lalu, bagaimana sekarang? Yah, tetap sama saja sih, namun mungkin sensasi yang saya rasakan agak tak seexcited dulu. Masih terasa menyenangkan, namun terkadang juga terasa amat menyedihkan. Ya, seperti dua mata pisau yang tajam. Sekarang ini saya memang sudah tidak lagi menyusupi kelas perkuliahan walaupun saya memang sangat menginginkan perkuliahan lanjutan setelah kelulusan tiga tahun yang lalu. Sisi keintrovertan saya yang sedari kecil melekat dan sempat terkubur karena lingkungan saya yang lebih didominasi extrovert pun mulai bekerja aktif kembali saat setelah saya terpisah jauh dari kehidupan kota hujan yang teramat menyenangkan hati itu membuat saya untuk lebih mengenal diri saya sendiri. Ya, terlebih pula dengan terhentinya hubungan saya dengan Mas Kecil yang mendukung kondisi saya tersebut. Kepribadian saya yang tak jelas itu terkadang membuat saya kelelahan sendirian. Saya lelah dengan pemikiran saya sendiri yang suatu ketika terasa amat senang menyusup namun terkadang juga menyedihkan jika mengingat ulang. Menyedihkan ketika saya merasa harus menyusupi suatu lingkungan baru untuk menemukan orang-orang yang mungkin akan ‘cocok’ dengan saya. Saya merasa menyedihkan terlihat tak memiliki seorang teman bahkan untuk bermain. Yah, saya pun tak ingin menyalahkan jauhnya jarak tempat tinggal saya dari beberapa sahabat karib saya. Kami memang jarang bertemu dalam waktu dekat dan harus selalu direncanakan terlebih dahulu. Dan dengan saya menyusupi komunitas/lingkungan baru memang dengan harapan bisa bertemu mereka yang baru, yang pada akhirnya malah membuat saya merasa tampak menyedihkan pula di depan mereka. Ah, saya tidak tahu kenapa saya tiba-tiba sepathetic ini. Mungkin belakangan ini keintrovertan saya memang sedang unjuk gigi.

©Juls

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s