Konspirasi drama AADC 2 dan puisi Aan Mansyur dalam mengenang sosok yang tak disebut sebagai mantan.

Kadang-kadang, kau pikir, lebih baik mencintai semua orang daripada melupakan satu orang. Jika ada seseorang terlanjur menyentuh inti jantungmu, mereka yang datang kemudian hanya akan menemukan kemungkinan-kemungkinan.  -M Aan Mansyur

Sepenggalan puisi Aan Mansyur di atas adalah barisan kata yang amat masygul menohok hati saya sendiri. Betapa tidak, Aan dengan bahasanya yang amat-sangat lugas tak tersirat itu malah telah menaklukan saya walaupun saya tidak menyukai gaya bahasa yang digunakannya dalam menulis puisi-puisinya. Ya, kali ini hanya karena ‘Tidak Ada New York Hari Ini’ saya telah menjilat ludah saya sendiri. Puisi-puisinya Aan Mansyur dan dramatisasi AADC 2 itu malah mengembalikan saya pada ingatan tentang sosok yang tak saya sebut sebagai mantan.

©Juls

Saya merasa keduanya, Aan dan drama AADC 2 itu sangat banyak memberikan konspirasi pada mereka-mereka yang hubungannya kandas di perjalanan dan membekaskan ingatan tentang seseorang teramat dalam di kehidupan orang lain sehingga membuat orang tersebut mengilas balik apa-apa yang sudah terjadi dan mungkin yang masih menjadi harapan. Keduanya jika dipadupadankan dengan lagu super galau seperti Hello-nya Adele mungkin akan menjadikan sebuah masterpiece sehingga mendorong menyemangati orang yang pernah mengalami kisah percintaan yang belum selesai untuk menyelesaikan kisah cintanya itu. Sungguh masing-masing dari ketiganya memiliki peran yang amat besar untuk merubuhkan tembok pertahanan karena sesuatu yang dinamakan kenangan. Dan hal tersebut sangat sesuai dengan apa yang telah dikicaukan oleh Joko Pinurbo di tahun 2013 lalu. Bahwa..

Setangguh-tangguhnya kamu, akan goyah juga digajul kenangan.  -Joko Pinurbo

Ya, setangguh-tangguhnya saya, toh tembok pertahanan yang saya bangun ini pun akan runtuh luluh lantak pula jika terus menerus dihantami kenangan tentang seseorang yang tidak saya sebut sebagai mantan. Iya, saya kalah untuk tidak mengingat dan berhubungan dengannya hingga saat ini. Saya dan sosok tersebut bak dua kutub yang terus berlawanan, berbeda satu dengan yang lainnya. Keegoisan saya – kebaikan dia, keambivertan saya – keintrovertan dia, keriangan saya – kependiamnya, kelugasan saya – ketersiratan dia, dan hal-hal lainnya yang berbeda serta ketidaksamaan frekuensi perasaan kami yang pada akhirnya menjadikan ‘selalu berteman’ adalah cara terbaik penengah dan penerimaan saya terhadap segala yang sudah kami jalani. Saya yakin masing-masing dari kami mempunyai cara tersendiri dalam menyayangi satu sama lain. Ah tidak, bukan satu sama lain, mungkin lebih tepatnya saya pada dirinya. Saya tidak yakin atas perasaan sosok yang lebih sering saya panggil dengan sebutan Am itu terhadap diri saya ini. Apa-apa yang terjadi di antara kami mungkin hanya sebatas khayalan-kegeeran-harapan saya yang terlalu membuncah saat itu. Saya lebih yakin bahwa yang sudah kami jalani itu sebagai kisah cinta saya yang bertepuk sebelah tangan pada dirinya. Haha, sungguh kisah yang menyedihkan dan membekaskan ingatan teramat dalam.

Kisah saya dangan Am ini memang tidak ada kaitannya dengan drama AAdC2 yang sedang ngehits sekarang. Saya pun tidak merasa seperti Cinta yang ditinggalkan tanpa adanya info apa-apa dari Rangga. Sosok Mas Kecil saya ini adalah sosok yang baik, dia mengakhiri menjelaskan dengan baik melalui sebaris kalimat yang dikirim via WhatsApp sehingga membuat saya terdiam masygul lalu menangis dan lebih memilih tidur padahal sudah siap untuk berangkat bekerja. Sebuah kenangan yang memang pada akhirnya tidak bisa dan tak ingin saya lupakan. Saya tidak merasa marah sama sekali terhadap Mas Kecil, saya marah terhadap diri saya sendiri. Ya, saya kecewa pula pada diri saya sendiri yang sok tahu ini. Terlalu banyak kesalahan yang saya perbuat, terlalu banyak hal keabsurdan saya yang mungkin memang sulit dipahami oleh Mas Kecil, atau mungkin memang terlalu banyak ketidaksamaan-ketidakcocokan-ketidaksukaan Mas Kecil terhadap saya yang sering mengacaukan hari-harinya dan membuat dia bingung harus berbuat apa terhadap saya. Ah, pada intinya mungkin menurut Tuhan, kami memang lebih baik tidak dibersamakan. Dan mungkin itu cara Tuhan untuk menegur saya atas sikap saya yang terlalu mengharapkan makhluk ciptaannya.

Aku ingin istirahat mengingatmu, tapi kepalaku sudah jadi kamar tidurmu jauh sebelum aku mengenal namamu.   -M Aan Mansyur

Hubungan saya dengan Mas Kecil memang tidak mudah kembali normal. Namun saya yakin, dengan penerimaan saya atas keputusan waktu itu akan mencairkan cara berkomunikasi kami berdua. Yah yang dulunya aku-kamu dan sekarang berubah tidak konsisten jadi saya dan kadang kembali lagi aku-kamu. Menggelikan sekali memang perubahan itu. Namun saya menikmati atas apa yang sudah menjadi perubahan di antara kami berdua, walau mungkin masih ada batas-batas yang harus kami jaga. Walau di akhir cerita kisah Cinta-Rangga pada akhirnya menjadi bersama, namun saya lebih merasa dalam kisah hubungan saya dengan Mas Kecil sepertinya akan lebih baik jika dia tidak bersama dengan saya, dia terlalu baik buat saya. Itu bukan suatu alasan klise, buat saya itu alasan yg benar nyata adanya. Saya ini apa? Saya ini siapa? Saya ini bagaimana? Mau membersamai hidupnya dia. Setelah apa yang terjadi di masa lalu, saya lebih merasa bahwa jarak kami teramat jauh untuk dibersamakan, perbedaan kami terlalu kontras untuk disatukan, dan saya merasa tidak mungkin jika perasaan kami ada di satu tujuan yang sama karena selama dulu pun saya sadar bahwa dia tak pernah memiliki tendensi perasaan apapun terhadap saya, walau sikap yang ditunjukan kepada saya selalu manis baik tapi tak pernah terucap kata/kalimat sedikitpun tentang perasaannya kepada saya, dan ya itulah kesalahan saya yang terlalu banyak mengsalahartikan dan melebihkan keadaan kebaikan dia. Saya sadar bahwa kisah Cinta-Rangga bukanlah kisah kami berdua. Mungkin masing-masing dari kami pada akhirnya akan menemukan-menjalani kisah layaknya Milly-Mamet yang amatlah sederhana, seperti kesederhanaan Aan Mansyur dalam puisi-puisinya.

Untukmu Mas Kecil. Kepalaku ini mungkin menjadi kamar tidurmu bahkan saat aku menerima kepergianmu, dan berberbahagialah kamu karena aku tidak beristirahat saat mengingatmu. Aku tidak tahu apakah esok lusa aku masih bisa mengingatmu sebab ada sosok lain yang telah menggantikanmu.

©Juls

Advertisements

One thought on “Konspirasi drama AADC 2 dan puisi Aan Mansyur dalam mengenang sosok yang tak disebut sebagai mantan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s