Dari Setjangkir Kopi

malam kemarin ku temukan resah di dadamu
walau telah ku tenggelamkan tubuhmu dalam pelukku
setiap tarikan nafasmu, perlahan resah itu menjelma rindu

kita adalah cinta yang sial, cinta orang orang yang pura pura tidak cinta,
padahal setiap malam kita bertukar puisi cinta
kita adalah rindu yang penyegan, rindu orang orang yang malu katakan rindu,
padahal tiap malam puisi kita melepas rindu
berpagut hingga pagi

image
Padang Savana Bromo Tengger ©Juls

kaulah lelaki yang seharusnya paling paham, paling puisi
sebab puisi puisiku hanya bercerita kau, berhentilah menolak kata hatimu
hujan tetap turun walau bumi sudah banjir, tak ada yang meminta jatuh cinta,
sebab dia air, harus mengalir, mengalahlah, di hatimu itu,
seberapa kokoh dan tinggi bendungan yang akan kau bangun?

sayang…
jangan mati lemas karena cinta meluap dan menenggelamkan dadamu
sekali dulu cinta memang pernah membunuhmu, tapi jangan salahkan awan
yang menurunkan hujan, hujan bisa saja sama, air juga, tapi awan selalu beda.

yang kau ajak berbincang dalam dadamu itu aku, maka berhentilah berbantahan,
berhentilah ragu, jatuh cintalah padaku, sekalipun cukup.

*disesuaikan dari @setjangkir.kopi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s