Pertemuan #bagianpertama (Banda Neira)

Sebenarnya tulisan mengenai duo nelangsa riang ini (re: Banda Neira) pernah saya tulis di blog lama saya. Namun, mengedit kembali suatu tulisan terkadang memang menjadi hal terfavorit yang saya lakukan ketika tengah bernostalgia kembali ke beberapa buah pikir yang pernah tertuangkan. Yah, begitulah yang hobinya mencari-cari kesalahan bukan orang lain tapi diri sendiri. Hmm.

*image source: http://dibandaneira.tumblr.com/

Banda Neira merupakan sebuah nama panggung dari proyek iseng Ananda Whardana Badudu dan Rara Sekar larasati. Banda Neira mulai membumi menyuarakan hasil karya mereka setelah resmi diperkenalkan di lingkungan Universitas Parahyangan Bandung. Banda Neira sendiri dikenal sebagai salah satu dari enam pulau di Kepulauan Banda yang berada dalam tatanan geografis Maluku Tengah. Untuk musik yang disuguhkan dari hasil proyek keisengan Ananda dan Rara, Banda Neira telah memiliki pendengar-penyimak dari karya-karyanya yang easy listening dengan lirik yang sarat makna. Itulah mengapa saya merasa beruntung telah menemukannya. Tsah!

Saya lupa pada awal mulanya kenapa saya bisa menemukan duo nelangsa ini. Seingat saya, dulu ketika pertengahan tahun 2014 ketika saya mulai memperbarui daftar putar musik di komputer jinjing saya ini, saya iseng-iseng semangat surfing mengenai musik indie di Soundcloud. Saya menemukan beberapa grup/pemusik indie yang menyuguhkan musik yang menurut saya pas dengan saya, seperti Payung Teduh, Layur, Gardika Gigih, Frau, dan tentu saja Banda Neira yang tengah saya bicarakan ini. Saya merasa pas karena jujur saja ketika saya mendengarkan pertama kali apa yang disuguhkan oleh mereka, saya bisa dapat dengan mudah langsung menyukai alunan suara musik yang digagas oleh setiap pemusik. Yah, cukup sederhana sekali sebenarnya.

Salah satu lagu yang saya sukai dari duo nelangsa Banda Neira ini adalah Hujan di Mimpi. Apik!  Saya suka lirik lagunya, dan tentu suka komposisi musik yang disuguhkannya pula. Nah, sambil meresapi lirik lagu Hujan di Mimpi yang saya tuliskan juga, kamu bisa sambil mendengarkan betapa menenangkannya Hujan di Mimpi ini.

” Semesta bicara tanpa bersuara

Semesta ia kadang buta aksara

Sepi itu indah, percayalah

Membisu itu anugerah

##Seperti hadirmu di kala gempa

Jujur dan tanpa bersandiwara

Teduhnya seperti hujan di mimpi

Berdua kita berlari

Semesta bergulir tak kenal arah

Seperti langkah-langkah menuju kaki langit

Seperti kenangan akankah bertahan

Atau perlahan menjadi lautan… “

(kembali ke ##)

Genre musik mereka yang folk, acoustic dan paduan lirik yang begitu sarat makna sangat mendukung kenelangsaan yang terkadang bisa pula menjadi sesuatu yang membahagiakan dan membuat hati menjadi riang. Beruntung saya menjadi seseorang yang yah-bisa-dikatakan-melankolis, karena sebagian besar suguhan lagu yang acoustic nan nelangsa riang itu akan dapat dengan mudah terasa cocok dengan tipe telinga pendengar yang seperti saya ini. Yah, saya pikir sih begitu..

Menurut saya, karya dari Banda Neira ini sangat apik sekali, sungguh tidak main-main, walau ini hanya proyek iseng belaka dengan premis seru-seruan yang kini memang sudah menaikan sedikit tingkatnya menjadi iseng agak serius. Dan, yah, saya tidak heran mengapa lirik lagu yang disuguhkan dari duo nelangsa ini begitu penuh makna dan terasa puitis manis itu dikarenakan sebagian besar lirik lagu digubah oleh Ananda yang notabene adalah seorang jurnalis Tempo dan juga merupakan salah satu cucu dari seorang pakar bahasa Indonesia, J.S Badudu. Sudah pasti ia amat cerdas dalam memilah kata bukan?. Nah, tak ada bedanya pula dengan Ananda, Rara Sekar Larasati atau yang sering dipanggil Rara ini merupakan putri musisi Sapta Dwikardana dan juga kakak dari penyanyi muda berbakat Isyana Sarasvati pun amat piawai dalam memainkan xylophone dan memiliki vocal yang jernih-lembut yang menjadikan pelengkap yang pas dengan lirik dan juga petikan gitar yang dimainkan oleh Ananda.

Ah, sudahlah. Buat saya, Ananda dan Rara ‘si duo nelangsa’ Banda Neira ini telah berhasil menyuguhkan satu harmonisasi musik yang khas nelangsa-riang yang bukan iseng belaka.

 

ps: buah pikir ketika sedang nostalgia sambil menunggu rilisnya album kedua duo nelangsa.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s